Keesokan harinya, pesawat lepas landas di pagi yang cerah, meninggalkan tanah yang menyimpan terlalu banyak kenangan duka—menuju kota yang berjanji pada keindahan dan permulaan baru.Alexa duduk di dekat jendela, tangannya digenggam Arsenio erat. Ketika roda pesawat terangkat, ia menutup mata sejenak, menarik nafas panjang. Ada getar kecil di dadanya—campuran harap, gugup, dan kebahagiaan yang terasa hampir tak nyata.“Kita benar-benar pergi,” bisiknya.Arsenio tersenyum, mencium punggung tangannya. “Tentu saja.”Perjalanan terasa singkat ketika mereka menghabiskannya dengan obrolan ringan dan tawa kecil. Arsenio berkali-kali memastikan Alexa nyaman, menata bantal, menyodorkan air hangat, memeriksa jadwal makan. Alexa menggodanya, menyebutnya terlalu protektif. Arsenio hanya mengangkat bahu—ia tak berniat berubah.Setelah menempuh perjalanan yang jauh, Paris menyambut mereka dengan cahaya lembut sore hari. Dari jendela mobil yang membawa mereka ke hotel, Alexa memandangi bangunan-ban
Baca selengkapnya