Tapi ada sesuatu yang kembali utuh. Kepercayaan. Dan Aurel tau, kalau ujian ini bisa mereka lewatin— yang lain, pelan-pelan, akan menyusul. Raksa tau itu juga. Dia cuma nggak pernah jago nunjukinnya. Pagi itu, Raksa duduk di motor lebih lama dari biasanya sebelum turun. Mesin udah mati, helm masih di kepala, tapi pikirannya belum sampai kampus. Kepalanya penuh—bukan sama tugas, bukan juga sama deadline. Tapi sama Aurel. Bukan versi Aurel yang galak. Bukan juga yang dingin. Versi Aurel yang berdiri di lorong kemarin, bilang dia takut… tapi tetap milih tinggal. Kenapa orang bisa seberani itu? pikir Raksa. Ngaku takut, tapi nggak pergi. Raksa nggak terbiasa dengan itu. Sejak kecil, dia belajar satu hal: kalau sesuatu mulai terasa penting, jarak adalah cara paling aman. Dan sekarang, jarak itu justru yang hampir bikin semuanya runtuh. Raksa buka helm, menghela napas panjang, lalu akhirnya turun. Di kelas, Aurel duduk di tempat biasa. Raksa ngeliatnya
Last Updated : 2025-12-23 Read more