“Kar, bangun. Kayaknya …. Kakaknya Zee sudah datang.” Karina tersentak dari tidurnya. Kelopak matanya mengerjap berat. Begitu kesadarannya terkumpul, wanita itu bangkit duduk perlahan dan menemukan ponselnya berdering dalam genggaman Dimas.Wanita itu membalas tatapan Dimas dengan alis bertaut tajam sebelum mengambil ponsel itu,dan menekan tombol hijau.“Halo?”“Halo, Bu Karina. Saya sudah berada di depan rumah kos. Apa Ibu bisa antar kuncinya ke saya?”Karina dan Dimas kembali bertukar tatap. Bagaimana kalau pria yang datang nanti bukan benar-benar kakak dari Zee?Jika orang itu bukan kakak kandung Zee dan malah memanfaatkan situasi, ini benar-benar mimpi buruk.“Suruh dia masuk, kita temui bareng-bareng.” Dimas berbisik tegas.Karina mengeratkan genggaman tangannya pada ponsel sebelum menjawab, “Mas, masuk aja. Nanti saya tunggu di depan lorong kosan.”“Baik. Terima kasih, Bu Karina.”Panggilan ditutup. Karina menatap Dimas dengan guratan ragu. “Dim, kita tanya-tanya Zee lewat kak
Read more