“Boleh sambungkan teleponnya ke Ibu, Pak?” Suara kebisingan tipis terdengar dari seberang telepon, disusul hening panjang yang menyesakkan dada. Dimas memejamkan mata, membiarkan angin malam Jakarta menerpa wajahnya. Dia tahu Ibu sedang memegang ponsel, meski tak ada suara yang keluar. "Bu..." suara Dimas melembut. "Besok lusa, aku menikah.” Hening. Masih tak ada suara di seberang. “Kalaupun Ibu masih belum bisa menerima keputusanku, apa Ibu nggak bisa hadir untuk melihat, bahagianya aku hari itu Bu?” Masih hening. Namun, Dimas bisa mendengar isakan tertahan yang sangat tipis. "Bu.” Dimas meneguk ludah, berusaha menenangkan tenggorokannya yang tercekat. “Aku nggak minta Ibu memaafkan aku. Aku cuma ingin Ibu hadir sebagai saksi bahwa anak Ibu sudah menemukan bahagianya, bersama Karina." Klik. Sambungan terputus sepihak. Dimas memejamkan mata erat-erat. Napasnya dihela panjang. Matanya menatap layar ponsel yang kini gelap. Perlahan, Dimas merasakan sepasang lengan melingkar
Read more