"Keputusanku sudah bulat. Aku akan pergi bersama Nayara dan Narendra."Suara Lidya tidak melengking, jauh dari teriakan histeris yang seringkali menghiasi perselisihan rumah tangga. Justru getarannya yang halus, namun tegas, terasa menembus sanubari. Getaran itu sanggup meruntuhkan keangkuhan pilar-pilar marmer yang berdiri gagah di paviliun utama Adnyana, di malam yang temaram ini. Lidya meraih pegangan kopernya, gerakan tangannya begitu mantap, tak ada lagi keraguan yang membayangi.Bima terlonjak. Wajahnya pias. "Tunggu, Lid... Tolong, ini masih bisa kita bicarakan. Jangan ambil keputusan besar dalam keadaan emosi seperti ini," ucapnya terburu-buru, mencoba mencegat langkah Lidya. Tangannya terulur, berniat menahan bahu istrinya, namun ia terpaku. Tatapan mata Lidya yang begitu asing, begitu beku, menghentikannya. Tatapan itu berkata, ‘terlambat.’Alvin, yang sejak tadi berdiri membeku di samping boks bayi Nayara, maju selangkah. Wajahnya hancur lebur, lebih pucat dari biasanya. "K
Baca selengkapnya