Di sudut ruangan kerja dr. Alvin, yang kini terasa begitu asing dan dingin, ia duduk meringkuk di sebuah kursi berlengan, punggungnya melengkung, seolah mencoba mengecilkan diri dari kenyataan yang baru saja menghantamnya tanpa ampun. Pencidukan ibunya, Kanaya, adalah pukulan telak yang membuat tulang-tulangnya terasa ngilu, menorehkan luka yang menganga dalam harga dirinya. Namun, guncangan sesungguhnya bukanlah bayang-bayang jeruji besi yang mengurung ibunya, melainkan kebenaran fundamental yang baru saja diungkap, merobek lembaran sejarah hidupnya yang selama ini ia pahami. Sejak detik kebenaran itu terungkap, segala fondasi yang menopang eksistensinya seolah retak, dan di tempat retakan itu kini tumbuh kekosongan yang mengerikan.Hingga pintu di sudut ruangan berderit pelan, memecah keheningan yang menyesakkan napas. Langkah kaki yang tenang namun menyimpan beban berat kian mendekat. Sosok tegap dr. Rafael Irwanto kini berdiri di ambang cahaya yang meredup, menatap putranya dengan
Read more