“Khaelia, kenapa kamu di sini?”Khaelia menatap Yardan, mantan kekasihnya yang mendadak muncul di hadapannya. Ia mendesah kasar. Di saat pikirannya sedang teramat kusut, justru ia harus bertemu dengan laki-laki yang paling tidak ingin ditemuinya seumur hidup. Tanpa rasa malu sedikit pun, Yardan menarik kursi plastik di seberang mejanya dan langsung duduk dengan senyum yang terkembang lebar, merasa kedatangannya sangat disambut.“Kasihan amat sendirian, aku temani ngobrol, ya?” tawar Yardan tanpa rasa dosa.“Nggak perlu, aku lebih suka sendiri,” tolak Khaelia dingin seraya memalingkan wajahnya.“Jangan begitu, bagaimanapun kita teman. Aku tahu kamu masih dendam padaku karena aku putuskan dulu. Rasa cinta yang besar bikin kamu marah, bukan? Aku paham itu, Khaelia. Tapi, waktu berlalu dan harusnya kamu sudah mulai melupakan itu semua,” ujar Yardan percaya diri.Khaelia memilih mengabaikannya. Tatapannya
Read more