Deru mesin sedan memecah keheningan pagi, berhenti mendadak di depan rumah Carina, cukup memekakkan telinga.“Siapa yang datang?” tanya Carina.“Mana aku tahu, Ma.”Celina dan Carina, yang tengah duduk gelisah di ruang tamu, sontak berdiri. Jantung mereka berdebar, berharap sosok Ernest atau Ivander yang keluar dari mobil itu.Namun, begitu mereka sampai di ambang pintu, senyum di wajah mereka membeku. Bukan Ivander yang mereka lihat, melainkan dua orang bertubuh tegap, anak buah Ivander, berdiri dengan ekspresi tanpa kompromi.“Siapa kalian? Mau apa kemari?” tanya Carina penuh selidik, matanya menyipit tajam. “Nona Celina!” Suara salah satu pria itu memecah keheningan, dingin dan menusuk, “Anda diminta untuk menghadiri persidangan perceraian hari ini.”Tubuh Celina menegang seketika. Darah seolah berhenti mengalir dalam nadinya. Ia menggelengkan kepala, tatapannya kosong. “Tidak! Aku tidak akan datang ke pengadilan.”“Tapi, Nona, ini perintah dari—”“Tidak!” Celina membentak, suaran
Last Updated : 2025-12-02 Read more