Beberapa hari setelah kepergian Pak Bisma, rasa kehilangan dan kesedihan selalu menyelimuti hati Syafana. Bahkan untuk sekedar menyentuh piring makan, wanita itu terasa seolah ada beban di pundak. Ia duduk di pinggir ranjang, tubuh membungkuk, mata tidak pernah menjauh dari bingkai foto sang ayah.Ivander mengamatinya dengan pandangan yang penuh keprihatinan. Dia menghela nafas. Hatinya terasa menyakitkan, seolah ditusuk jarum setiap kali melihat wajah istrinya yang muram. Perlahan-lahan, dia mendekatinya. “Sayang, kamu belum makan hari ini,” ujarnya dengan nada yang lembut. “Ayo, kita makan dulu, ya? Ibu dan Mama sudah memasak sup yang kamu suka.”Syafana hanya menggelengkan kepalanya, raut wajahnya tidak berubah. Ivander mengangkat bahu sedikit, mencoba lagi: “Kalau tidak suka sup, kamu ingin apa? Katakan saja, biar aku cari atau masak apapun yang kamu inginkan.”“Tidak, Mas! Aku tidak bisa menelan apapun, semuanya terasa seperti batu di tenggorokan, Mas!”“Jangan begitu, Sayang,”
Last Updated : 2025-12-09 Read more