Alvaro melanjutkan menyuapi perlahan, memastikan setiap suapan tidak terlalu panas. Sesekali ia meniup sendok, lalu tersenyum kecil ketika Elara membuka mulut dengan patuh. “Aku jadi kayak anak kecil, ya?” gumam Elara sambil menahan tawa tipis. Alvaro menggeleng, matanya melembut. “Enggak. Kamu terlihat manis.” Wajah Elara merona, jadi ia buru-buru menunduk agar tidak terlihat. Ada keheningan sesaat, hanya suara hujan di luar jendela yang menemani mereka. Ketika sendok terakhir habis, Alvaro mengulurkan tisu, membersihkan sisa bubur di sudut bibir Elara. Gerakannya lembut, hati-hati, seakan takut menyakiti. Untuk sesaat, mata mereka bertemu. Ada sesuatu yang bergetar, sesuatu yang dulu asing bagi Elara—tapi sekarang terasa menenangkan. “Terima kasih, Mas.” Suaranya lirih, tulus. Alvaro menelan ludah, lalu menjawab pelan, “Aku yang seharusnya berterima kasih… karena kamu masih di sini, bersamaku.” Elara menatapnya lama, seolah mencoba
Last Updated : 2025-11-22 Read more