“Tuan mungkin terkena serangan lagi, Nyonya!” lanjut si pelayan ketakutan.Nyonya Miranda sontak menjerit pelan sebelum buru-buru berlari masuk ke dalam rumah.“HENRY!”Sam langsung menyusul dengan langkah besar. Aku ikut berlari di belakang mereka, jantungku berdetak kacau tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.Begitu sampai di ruang makan, suasana di sana benar-benar berantakan.Tuan Henry tergeletak di lantai marmer dengan tubuh kaku tak bergerak. Gelas wine yang tadi berada di mejanya sudah pecah di dekat kaki kursi. Cairan merah itu menyebar seperti noda darah.Dan di sisi pria tua itu, Cindy sedang berjongkok sambil berusaha memberikan pertolongan.“Ayah! Ayah! Bisa dengar aku?”Tangannya bergerak cepat memeriksa denyut nadi lalu menekan dada pria itu beberapa kali.Sebagai dokter, aku tahu Cindy bukan orang sembarangan dalam situasi seperti ini. Dan saat melihat ekspresi serius di wajahnya, ketakutan mulai merambat dalam dadaku.Tuan Henry tampak tidak bernapas. Wajahnya pucat
더 보기