Sore itu, rumah keluarga besar Raka terasa lebih sunyi dari biasanya. Suasana hangat yang biasanya diwarnai tawa Anaya, candaan Raka, atau bisik-bisik nakal Jay, kini digantikan oleh keheningan. Hanya terdengar denting jam antik di ruang tamu dan suara langkah Opa yang tegas, tapi ringan, menyusuri lantai kayu.Opa duduk di ruang kerjanya, punggung tegak, tangan bersilang di depan dada. Di depannya, rak-rak buku tua berderet rapi, aroma kayu dan kertas lama memenuhi udara. Opa menatap kosong ke jendela, lalu menghela napas. “Sudah saatnya…” gumamnya pelan.Ia menekan tombol di ponselnya, memanggil Jay yang sedang duduk santai di ruang keluarga, bersandar di sofa, memainkan ponsel dengan senyum khasnya. Jay mengangkat wajah begitu ponsel berdering. “Iya, Opa?”Opa menatap tajam. “Datang ke ruang kerjaku, sekarang.&rd
Last Updated : 2025-11-18 Read more