Semenjak Ndari kembali dari rumah orang tuanya, suasana hati perempuan enam belas tahun itu kacau balau. Ia tak tinggal diam menerima keadaan begitu saja.Pada hari kepulangan Kamakarna, Ndari menunggu lelaki tersebut di atas tembok pertahanan ibu kota. Ia berdiri di sana sejak matahari muncul di ufuk timur.“Yang Mulia, istirahatlah dahulu,” ujar Narti, dayang yang menemani Ndari.“Nanti saat Yang Mulia Putra Mahkota tiba, saya akan memberi tahu Anda,” sambungnya.Ndari mengabaikan saran dayangnya, bak angin lalu. Ia tetap bergeming di tempatnya demi satu tujuan, menyaksikan secara langsung bagaimana interaksi suaminya dengan Muniratri saat dirinya tak ada.“Yang Mulia, jika Anda bersikeras seperti ini, Anda akan sakit nanti,” bujuk Narti.Perempuan itu masih enggan bersuara. Dia menanggapi perhatian si dayang dengan menggosok-gosok telinga, seolah seekor nyamuk baru saja hinggap di sana.“Ya
Read more