공유

116|

작가: Shanum Belle
last update 게시일: 2026-02-14 19:00:56

Hal pertama yang Kamakarna lakukan ia setelah mengumumkan kedatangannya ialah mengunjungi kantor Balai Pangan. Di sana, dirinya disambut dengan penghormatan sang Tumenggung.

“Berdirilah!” Kamakarna mengangkat dagunya.

Tanpa diminta, sang Putra Mahkota menempati kursi milik Kepala Badan Pangan sebagai tempat duduk. Ia melakukannya tanpa sungkan sedikit pun.

Tumenggung Yajnayoda yang biasanya bersikap angkuh dan merasa paling dominan, di hadapan Kamakarna hanya

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   165|

    “Putra Mahkota adalah cucuku, begitu pun dengan pangeran yang lahir dari selir.” Sorot mata Ibu Suri tertuju pada Prameswari Widuri.“Menurut Prameswari, kenapa aku harus berpihak pada putramu saja? Bukankah itu tidak adil bagi cucuku yang lain? Mereka juga punya kesempatan untuk menjadi Putra Mahkota, bukan?” Ibu Suri merentangkan kedua tangan.Jawaban Ibu Suri yang membuat Prameswari Widuri menarik diri ke belakang. Tangannya gemetar, tak menyangka bahwa wanita itu akan bersikap dingin padanya.Wanita itu berpaling ke arah lain. Ia menatap ke awang-awang sambil merenungi bagaimana nasib putranya nanti. Dan satu ide pun terlintas.“Ibu Suri, Baginda Prabu memang memiliki banyak pangeran yang bisa dijadikan Putra Mahkota. Namun di antara mereka, hanya putraku yang berasal dari klan yang sama dengan Anda,” ucap sang Prameswari.Ia menatap Ibu Suri dengan sorot mata yang tegang. Kakinya gemetar, khawatir jika perka

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   164|

    Prameswari Widuri menaiki tandu menuju Kompleks Mandira. Sepanjang perjalanan, ia melakukan japa dengan aksamala.“Lindungi putraku, ya Tuhan. Lindungi Putra Mahkota.” Wanita yang sedang melakukan japa memetik biji genitri satu per satu.Emosi yang tidak stabil membuat Widuri tak bisa mengatur kekuatan gerakannya. Aksamala yang ia petik pun putus. Seratus delapan biji rudraksha berhamburan hingga ke tanah.“Yang Mulia! Anda baik-baik saja?” seru Gendhis.Dayang itu ingin menanyakan apa yang terjadi, namun atas nama kesopanan ia tak berani melakukannya. Terlebih lagi suasana hati sang majikan sedang mendung, jika dayang itu salah mengucap kata, maka taruhannya adalah nyawa.Alih-alih memberi konfirmasi tentang keadaannya, Prameswari Widuri malah menyuruh mereka untuk bergerak lebih cepat. Ia tak ingin langkahnya didahului oleh orang lain.Perjalanan dari Kompleks Kusumaswari menuju Kompleks Mandira memerlukan waktu set

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   163|

    Serangan Putri Hadiwangsa terhadap Putri Mahkota Badra di Balai Purwa membuat Muniratri mengarungi dua pulau dalam sekali dayung. Ia berhasil menggoyahkan kekuatan sang Putra Mahkota dan juga meninggalkan keraton.Wanita itu kembali ke kediaman Pangeran Agung Hadiwangsa di Ibu Kota. Di sana, Ayunda dan Astuti menyambutnya dengan suka cita.“Selamat datang Kanjeng Putri.” Semua orang di kediaman Pangeran Hadiwangsa menyambut kedatangan Muniratri.Wanita yang pipinya masih memar itu mengangguk. “Silakan berdiri.”Sudah lama Muniratri tak mengunjungi kediaman sang Pangeran. Wanita itu pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk bernostalgia dengan masa lalu.Momen yang paling Muniratri suka saat di kediaman adalah ketika angin bertiup dari selatan. Ia membawa semilir yang menyejukkan dan juga wangi bunga.Muniratri merentangkan tangan seraya memejamkan mata. “Akhirnya aku bebas juga dari paviliun yang menyesak

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   162| Pertarungan dalam Istana

    Seorang pelayan diam-diam mengunjungi Gedhong Wari yang merupakan kediaman Selir Mulia Sri—ibu kandung Pangeran Atmajaya.“Yang Mulia, Putra Mahkota dan Putri Mahkota dimasukkan ke penjara bawah tanah dan Kanjeng Pangeran Atmajaya diberi wewenang langsung oleh Baginda untuk menyelidiki kasus yang melibatkan mereka,” tutur pelayan itu.Selir Mulia Sri senang bukan main saat mendengar berita tersebut. Ia langsung memberikan imbalan yang besar kepada pelayan itu sebagai bentuk penghargaan.“Putraku pasti akan sibuk. Cepat, suruh dapur keraton untuk menyiapkan makan siang untuk Pangeran Atmajaya! Aku akan mengantarnya secara langsung,” perintah Selir Mulia Sri kepada dayangnya.“Ibunda tidak perlu melakukan itu!” seru Pangeran Atmajaya.Selesai rapat di Balai Purwa, lelaki tersebut langsung bertandang ke kediaman ibunya. Ia tak sabar ingin berbagi cerita dengan wanita tersebut.“Hm!” Selir Mulia Sri mengibaskan tangan, menyuruh semua orang—kecuali Atmajaya untuk meninggalkan ruangan.Wanit

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   161| Papan Catur telah Dibuka

    Bahuwirya pikir, dengan mengembalikan wewenang Badan Pangan kepada Damarteja maka ia sudah membeli harga diri sang Pangeran. Orang-orang akan menganggapnya sebagai lelaki murah karena ia mendapat jabatan dengan mengorbankan istrinya sendiri.‘Kehormatan keluarga keraton tercoreng dan aku harus mengorbankan Putra Mahkota untuk membayarnya. Sekarang kamu mendapatkan kedudukan, namun harus mengorbankan kehormatanmu. Ini baru impas,’ batin sang Prabu.“Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Agung Hadiwangsa, mengapa Anda tidak mengucapkan terima kasih kepada Baginda?” seru Kasim Swari.“Pangeran Adipati Agung Hadiwangsa diam saja, apa kamu masih memiliki keluhan?” Prabu Bahuwirya tersenyum ramah.Sang Prabu menarik napas santai, menikmati wangi bunga kenanga di atas meja. Baginya, masalah telah berlalu, dan ia bisa bernapas lega.Suara dengungan para pejabat di bawah sana menambah rasa percaya diri Bahuwirya. Ia meyakini bah

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   160| Merebut Kembali Badan Pangan

    Desakan Prabu Bahuwirya membuat Ndari makin gugup. Ia ingin menjawab pertanyaan yang diajukan untuknya. Semua. Namun ketika Ndari hendak membuka suara, pikirannya memaksa untuk berhenti.“Baginda, maafkan saya. Saya ....” Ndari meletakkan telapak tangan di depan dada, menjaga supaya jantungnya tidak melompat.Perihal selendang yang manik-maniknya dibuang oleh Ndari adalah rahasia. Tak satu orang pun tahu masalah ini, kecuali dia seorang.Begitu pun alasan tentang hilangnya manik-manik tersebut, ia tak boleh mengatakannya. Kehilangan dukungan Prameswari adalah konsekuensi yang akan ia tanggung jika hal tersebut diketahui orang lain.“KAMU APA, PUTRI MAHKOTA?! Katakan yang jelas!” Bahuwirya memukul meja di sampingnya karena geregetan.Ndari dihujani tatapan tajam oleh semua orang. Ia pun terpojok.Wanita itu tak bisa tinggal diam dan hanya menunggu keadaan menjadi lebih baik. Ia harus mengarang alasan agar dirinya selam

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   141|

    Setiap Ningsih keluar keraton, Muniratri selalu menunggunya pulang di kursi panjang yang tersedia di halaman Paviliun Kantil. Ia ingin mendengar cerita di luar sana melalui mulut dayang tersebut.“NINGSIH!” Muniratri melambaikan tangan agar si dayang mudah menemukannya.

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   137|

    Ningsih bolak-balik di depan Paviliun Kantil selama tiga jam. Dia menunggu kepulangan Muniratri dari Kompleks Kusumaswari.Firasat buruk terus menyelimuti pikirannya. Seberapa keras ia mencoba menenangkan diri, tak pernah berhasil.“Kenapa kamu bertingkah tidak jelas seperti i

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   136|

    Gendhis membuka pintu yang terbuat dari kayu jati tua berkualitas tinggi. Pintu itu diukir dengan apik dan pada beberapa bagian dilapisi dengan emas.“Silakan masuk, Kanjeng Putri.” Gendhis menunjuk ke dalam ruangan menggunakan ibu jari.Muniratri melangkah ke depan. Pan

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   134|

    Berkat bantuan Putra Mahkota, Muniratri dapat berdiam diri di Gedhong Prabayekti dengan tenang. Ia tak perlu membuang waktu dan tenaga untuk menghadapi para pejabat yang perutnya busung.Hanya dalam seminggu, perempuan yang ayahnya meninggal secara tidak terhormat itu berhasil mengumpulkan

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status