Lyra mengepalkan tangannya erat, jemarinya memutih karena tekanan yang ia tahan. Tatapannya berubah tajam saat menatap Erina, tidak lagi dipenuhi kegugupan seperti sebelumnya.Di dalam hatinya, ada sisa-sisa rasa bersalah yang dulu ia simpan, mengingat bagaimana Erina pernah menjadi sosok yang menjaganya di panti asuhan. Bahkan hingga kini, sebagian dirinya masih mengingat masa lalu itu dengan perasaan yang rumit.“Aku sudah cukup diam,” gumam Lyra pelan, suaranya hampir tenggelam di tengah keramaian.Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya yang mulai bergetar oleh emosi. “Dan aku juga sudah cukup memaklumi semua ini,” lanjutnya dengan nada yang kini lebih tegas.Namun, melihat cara Erina memperlakukannya malam ini, sesuatu dalam dirinya akhirnya retak. Batas yang selama ini ia jaga runtuh tanpa sisa, menyisakan keberanian yang tak lagi bisa ditahan. Ia tidak bisa terus membiarkan dirinya diinjak, tidak lagi.Plak!Suara tamparan itu terdengar jelas, memotong kebisingan
Read more