“Sepertinya … dia sudah datang.”Erina berbisik pelan pada dirinya sendiri, suaranya tenggelam di antara hiruk-pikuk pagi di depan gedung Fernando.Ia berdiri di seberang jalan, tubuhnya tersembunyi di balik bayangan tembok. Tudung jaket hitamnya ditarik rendah, menutupi sebagian wajahnya agar tidak mudah dikenali.Ia mulai melangkah perlahan, mendekati area gedung dengan hati-hati. Setiap langkahnya terasa berat, bukan karena ragu, tetapi karena ia menahan amarah yang terus mendidih di dalam dirinya.Namun, sebelum benar-benar mendekat, ia berhenti sejenak, menarik napas panjang seolah mencoba menenangkan pikirannya.“Tenang Erina … jangan gegabah,” gumamnya lirih, matanya menyipit tajam.Erina mengintip dari balik tembok, mengamati situasi di depan pintu masuk. Dua pengawal berdiri tegap di sana, memperhatikan setiap orang yang keluar masuk tanpa celah. Tatapannya bergerak cepat, mencoba mencari kelemahan dari penjagaan itu.“Kalau aku langsung masuk … aku pasti langsung ditahan,” b
Read more