Angin membawa aroma kenanga ketika lentera minyak kembali bergoyang, membuat cahaya menari di wajah Pieter dan Cempaka. Hening itu terasa seperti ruang kecil yang hanya milik mereka—rapuh, namun hangat. Cempaka menarik napas panjang, mencoba menata gemuruh dalam dadanya sebelum berkata, “Pieter… ada sesuatu lagi yang harus kau tahu.” Pieter menegakkan tubuh, matanya otomatis menajam, tetapi suaranya tetap lembut. “Ceritakan.” Cempaka memandang ke arah paviliun gelap tempat Lastri baru saja dibawa. “Lastri mungkin menakutkan dalam caranya sendiri, tapi satu hal yang ia katakan benar: Pramana bukan orang yang sama.” Pieter mengangguk pelan. “Aku bisa melihatnya dari interaksi kalian.” "Kau tahu?" Pieter mengangguk sekali lagi, sebelum menjawab pertanyaan Cempaka. "Ya, Mevrouw. Dia terlihat begitu menyayangimu. Bahkan orang bisa saja salah paham jika tidak tahu apabila kalian saudara kandung. "Caranya melindungimu, seperti sesuatu yang hampir terlihat salah. Tapi, mungkin ak
Last Updated : 2025-12-12 Read more