Cempaka mengangguk pelan di dalam dekapan itu, lalu menarik napas dan—untuk pertama kalinya—menjauh setengah langkah. “Lain kali, jangan pernah pergi tanpa seizinku lagi,” ucap Pieter rendah, suaranya masih bergetar oleh sisa ketakutan. “Kau tahu, aku benar-benar bisa gila kalau kau pergi seperti ini lagi, Mevrouw.” Cempaka menatapnya lurus. Tidak membantah. Tidak juga tersenyum. “Maafkan aku, Piet. Aku terpaksa dan harus bergerak cepat.” Kalimat itu membuat Pieter melepaskan pelukannya sepenuhnya. Tatapannya menajam—bukan marah, melainkan waspada. “Apa yang terjadi?” Cempaka menghela napas panjang, seolah menimbang dari mana harus memulai. Ia lalu berbalik, melangkah lebih dulu ke arah lorong samping. “Ke ruang kerja,” katanya singkat. “Tidak aman membicarakannya di sini.” Ruang kerja Rembrandt tertutup rapat. Tirai setengah ditarik, lampu minyak di atas meja menyala redup. Pieter berdiri di dekat jendela, sementara Cempaka meletakkan tas kecilnya di atas meja, membuka pe
Last Updated : 2026-01-05 Read more