Cahaya matahari pagi menyelinap melalui celah kelambu, menyapu lantai kayu yang semalam menjadi saksi bisu runtuhnya tembok pertahanan mereka. Cempaka terbangun lebih dulu. Ia merasakan berat yang nyaman di pinggangnya—lengan Pieter yang masih melingkar protektif bahkan dalam tidurnya. Wajah Pieter saat terlelap kehilangan seluruh gurat kekakuan seorang Letnan. Ia tampak manusiawi. Cempaka menyentuh ujung rahang suaminya dengan ujung jari, meresapi kata "mencintaimu" yang masih bergema di benaknya. Namun, kehangatan itu terusik saat matanya tertuju pada kebaya hitam yang tergeletak di lantai. Teringat akan benda di sakunya, Cempaka bangkit perlahan. Ia memungut kain itu dan mengeluarkan sebuah gulungan kertas tua yang sudah menguning dan rapuh. "Kau sudah bangun, Mevrouw?" Suara parau Pieter memecah keheningan. Cempaka tidak menyembunyikannya kali ini. Ia duduk di tepi ranjang, membentangkan kertas itu di atas sprei putih yang berantakan. Pieter bangkit, matanya yang s
최신 업데이트 : 2026-01-14 더 보기