Mag-log inTerbangun tanpa sehelai benang pun di pelukan seorang pria Belanda, Cempaka tahu aib itu akan menghancurkan segalanya. Apalagi, dalam tujuh hari ia akan menikah dengan bangsawan pribumi. Lebih parah, pria itu bukan kompeni biasa, melainkan kepala pengawas pelabuhan yang baru ditunjuk kerajaan, sosok dengan kuasa yang bisa menjeratnya kapan saja. Di hari pernikahannya, ia mendapati kenyataan pahit: bukan hanya cintanya yang hilang, tapi juga kebebasannya. Terjepit di antara gairah terlarang dan permainan kuasa, Cempaka harus memilih—tunduk pada takdir yang dipaksakan, atau melawan meski risikonya bisa menghancurkan seluruh hidupnya! More info: IG: @yoruakira
view more「おめでとうございます、お二人とも!」
拍手が、会議室に響いた。
——違う。
突然のことで、とても信じられなかった。
その言葉は、本来なら私に向けられるはずだった。
スクリーンに映るのは、婚約発表のスライド。
その中央に立っているのは——私の恋人と、親友だった。
「……どういう、こと?」
伊藤愛海《いとうまなみ》。
それが、私の名前だ。けれど今、この場でその名前を呼ぶ人はいない。
誰も、答えない。
代わりに向けられたのは、露骨な視線だった。
「お似合いすぎる……!」
「やっぱりこの二人だよね」 「最初からそうだと思ってた」祝福の声が、次々に上がる。
——その中心にいるのは、松村みゆ《まつむらみゆ》だった。
少し照れたように笑いながら、
それでも自然に皆の視線を受け止めている。ああ。
いつも通りだ。
彼女は、こういうお祝いの場が似合う。
大学時代、モデルの仕事で出会ったときもそうだった。
初対面なのに距離が近くて、
気づけば隣にいるような人だった。だからこそ当たり前のように距離を縮め、親友になっていた。
——信じていた。
「え、松村さんって、知らなかったの?」
「マジで?気づいてなかったんだ」 「ちょっと怖いんだけど……」笑いを含んだ声が、今度は私に向けられる。
「彼、ずっと二股だったらしいですよ」
——違う。
息が、詰まる。
「二股交際とわかりつつ、伊藤さんに隠されてた、って。松村さんが言ってましたよ。」
——隠していたのは事実。でも、まさか。2人が付き合ってるなんて、思ってもみなかった。
その瞬間、すべての視線が私に突き刺さった。
まるで、私が“悪者”であるかのように。指先が震えている。
スカートの裾を握りしめる。
そうしないと、立っていられない。——違う。
——そんなはず、ない。
頭の中で、同じ言葉が繰り返される。
なぜ、私がこんな目に。
ゆっくりと顔を上げる。
目が合った。
みゆと。
一瞬だけ。
——逸らされた。
まるで、最初から私なんていなかったみたいに。
その横で。
「憶測で話を広げるのはやめてください」
静かな声。
高山樹《たかやまいつき》だった。
助けてくれる。
一瞬、そう思った。
けれど。
「誤解があるようですが。私と伊藤さんの間に、個人的な関係はありません」
言い切った。
私を見ずに。
みゆの肩を引き寄せながら。
「噂になるくらい勘違いさせるような行動があったのなら、彼女にも非はあると思いますが」
——非。
その言葉で、すべてが決まった。
——あの人は、こんな顔で嘘をつく人じゃなかった。
「うわ、完全にヤバいやつじゃん。地味なのに意外すぎて。」
「思い込み激しいタイプか」笑い声が、広がる。
違う。
違う違う違う。
私は——
あの人の恋人だった。
そして。
あの人の仕事を、支えていた人間でもあった。
——2ヶ月前。
「結婚しよう」
そう言って、彼は私の手を握った。
「愛海がいたから、ここまで来れた」
「この昇進も、全部一緒に掴んだものだから」
そう言って、笑った。
私は、それを信じた。
彼の部署で、誰よりも働いた。
寝る時間を削って、
何度も資料を作り直して、 彼の判断が正しくなるように支え続けた。結果は出たし、会社は評価した。
——なのに。
今、この場で発表されているのは。
彼の昇進と。
彼の隣に立つ、“親友との婚約”だった。
私の名前は、どこにもない。
まるで、最初から存在していなかったかのように。
あのときの言葉が嘘だったのなら。
あの時間が全部、利用されていただけだったのなら。
私は——
何を信じていたの?
Taman di kediaman Rembrandt tidak pernah sehijau pagi ini. Aroma tanah basah setelah hujan semalam menguap, bercampur dengan wangi bunga kemuning yang mekar di sudut pagar. Cempaka melangkah pelan di jalan setapak berbatu, jemarinya sesekali menyentuh kelopak mawar yang masih menyimpan butiran embun. Di sampingnya, Raden Aryotedjo berjalan dengan tangan tertaut di belakang punggung, langkahnya tidak lagi secepat dulu, namun dagunya tetap tegak dengan martabat yang kini lebih tenang. Pieter memperhatikan mereka dari beranda rumah, berdiri menyandar pada pilar putih besar sambil menyesap kopi terakhirnya. Ia sengaja memberikan ruang bagi ayah dan anak itu untuk menambal lubang-lubang di hati mereka yang sempat koyak. "Ayah akan kembali ke kadipaten sore ini," ucap Raden Aryotedjo memecah kesunyian. Beliau berhenti di bawah pohon kamboja tua, menatap bayangan dedaunan yang menari di atas rumput."Berkat suamimu, kehormatan Ayah dipulihkan dan jabatan itu dikembalikan pada Ayah seba
Percakapan hangat di meja makan itu terhenti saat suara derit sepatu bot yang tergesa-gesa bergema di lorong pualam. Sosok Bentley muncul di ambang pintu ruang makan. Wajahnya yang biasanya tenang kini nampak kaku dengan gurat kelelehan yang nyata, namun matanya memancarkan ketegasan seorang prajurit yang baru saja menyelesaikan misi krusial. Ia berdiri tegak, melakukan penghormatan militer sesaat sebelum melangkah mendekat ke arah Pieter. "Mohon maaf mengganggu sarapan Anda, Letnan. Ada kabar penting dari markas pusat dan kurir khusus dari Batavia," ujar Ben dengan suara bariton yang stabil. Ia mengangguk hormat pada Raden Aryotedjo dan Cempaka sebelum meletakkan sebuah map kulit berwarna cokelat tua di atas meja, sedikit menjauh dari piring nasi liwet. Pieter menyeka mulutnya dengan serbet linen putih, lalu meraih map tersebut. "Katakan, Ben. Tidak perlu ada yang dirahasiakan di meja ini." Ben menarik napas pendek, pandangannya menyapu isi ruangan. "Pembersihan telah sele
Matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah jendela jati yang besar di kediaman Rembrandt, membawa serta aroma melati yang basah oleh embun dari taman depan. Di ruang makan utama rumah megah bergaya kolonial itu, suasana biasanya sunyi dan kaku, hanya diisi oleh denting sendok perak yang beradu dengan piring porselen Delft Blue kegemaran Pieter. Namun pagi ini, udara terasa berbeda—lebih ringan, seolah beban berton-ton yang selama ini menekan atap rumah itu telah diangkat paksa oleh badai semalam. Raden Aryotedjo duduk di salah satu kursi kayu berukir yang biasanya ditempati tamu kehormatan Pieter. Beliau mengenakan beskap harian berwarna gading yang tampak sedikit kontras dengan arsitektur rumah bergaya Eropa tersebut. Rambutnya yang memutih tertutup blangkon dengan lipatan sempurna. Di hadapannya, secangkir kopi hitam mengepulkan uap tipis. Tangannya yang mulai keriput memegang koran De Locomotief, namun matanya tidak benar-benar membaca barisan kalimat di sana. Langkah kak
Cempaka memejamkan mata, namun alih-alih terlelap, benaknya justru berkelana mundur ke masa setahun yang lalu. Ia mencoba memanggil kembali ingatan tentang malam di alun-alun itu. Di bawah dekapan hangat Pieter, narasi suaminya seolah menjelma menjadi mesin waktu yang menariknya kembali ke tengah keriuhan pasar malam Yogyakarta. "Pasar malam itu..." Cempaka bergumam, suaranya parau oleh rasa tidak percaya. "Aku ingat genangan airnya. Hujan baru saja berhenti, dan bau aspal basah bercampur dengan aroma bakaran sate dari kejauhan. "Tapi aku benar-benar tidak melihatmu, Pieter. Bagaimana mungkin seorang perwira Belanda dengan seragam mentereng bisa luput dari pandanganku?" Pieter terkekeh, dadanya naik turun dengan tenang. "Karena aku berdiri di tempat di mana bayangan pohon beringin paling pekat, Mevrouw. Aku tidak ingin merusak suasana. "Kehadiran seragam militer di tengah rakyat yang sedang bersuka cita biasanya hanya akan membawa kecemasan. Aku hanya ingin menjadi penonton mala
Pieter tidak segera menyahut. Matanya tetap tertuju pada sosok Lastri yang kini meringkuk di lantai.Kuku-kukunya yang kotor menggaruk permukaan semen seolah sedang mencari jalan keluar yang mustahil. Sang Letnan menarik napas panjang, membiarkan udara paviliun yang pengap merasuki paru-parunya. M
Malam di Yogyakarta tidak pernah sedingin ini. Pieter Rembrandt berdiri di beranda depan, mengenakan mantel perwiranya yang berat. "Kau benar-benar akan pergi sekarang, Piet?" Suara Cempaka terdengar dari ambang pintu. Untuk kesekian kali menanyakan pertanyaan yang sama.Kalau saja bisa, Cempaka
Pieter melepaskan rangkulannya, tubuhnya menegang seketika. Tatapan hangat yang baru saja ia berikan pada Cempaka berubah menjadi kewaspadaan seorang prajurit yang mencium bau bahaya. Sang Letnan menatap ke arah pintu menuju paviliun belakang. Tempat yang selama ini sengaja ia abaikan demi menja
Gumpalan asap hitam yang membubung di cakrawala Yogyakarta tampak seperti noda tinta yang mengotori langit biru pagi. Bagi Cempaka, asap itu bukan sekadar pertanda kebakaran, melainkan simbol dari kota yang sedang meregang nyawa. Di atas kereta kuda yang dipacu Ben dengan kecepatan sedang, Cempak






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu