Tubuh Cempaka gemetar. Bukan karena takut, melainkan bersiap, menanti badai lebih besar yang akan datang. Kandang kuda begitu senyap. Bahkan kuda-kuda yang semula terlihat gelisah, kini sama sekali tak menunjukkan pergerakan apa pun. Seakan ikut menanti, apa yang akan mereka hadapi lagi kali ini. Hingga derap langkah kaki kembali terdengar. Kali ini, perempuan muda yang sudah mengikuti Cempaka sejak di kediaman Bupati Aryotedjo itu, tak bisa menyembunyikan kegundahan hatinya. "Den Ayu... di depan, ada Raden Galih!" ucapnya dengan nada yang sukar diterjemahkan. Antara takut, penasaran, sekaligus bahagia tapi juga waspada di saat yang bersamaan. Tubuh Cempaka menegang. Bahunya tertarik tegap. Sorot matanya semakin tajam. "Akhirnya kau muncul juga, Mas. Aku penasaran, seperti apa kamu sekarang," bisiknya dengan suara rendah yang tak terdengar oleh siapa pun. Sementara sang tahanan yang hampir kehilangan nyawa dari raganya kembali mengerang. Dengan sisa tenaga yang dimiliki, d
Last Updated : 2025-12-08 Read more