Lampu di paviliun belakang telah diganti dengan yang baru, namun bayang-bayang masa lalu seolah masih melekat di sudut-sudut langit-langitnya. Cempaka melangkah perlahan, melewati ambang pintu tempat kakaknya baru saja diseret keluar. Bau keringat dan ketegangan Pramana mulai memudar, digantikan oleh aroma kayu manis dari tungku kecil yang dibawa Sriah untuk menghangatkan ruangan. Di sudut paviliun, Lastri meringkuk di atas balai-balai. Ia tidak lagi menjerit, namun tubuhnya masih bergetar ritmis. Matanya menatap kosong ke arah jendela yang tertutup rapat, jemarinya mencengkeram kain jarik yang menutupi perutnya yang masih rata. "Mbak Sriah, biarkan kami bicara berdua," ucap Cempaka lembut. Sriah mengangguk patuh, memberikan pandangan iba terakhir pada Lastri sebelum keluar dan menutup pintu dengan suara klik yang pelan. Cempaka tidak langsung mendekat. Ia duduk di kursi kayu dekat balai-balai, membiarkan kehadirannya dirasakan oleh Lastri tanpa tekanan. "Dia sudah pergi, Las,"
Last Updated : 2026-02-12 Read more