Ivony merasakan dadanya seakan meledak oleh degup jantung yang kian tak beraturan. Posisi ini terlalu intim, terlalu berbahaya untuk kewarasannya. Ia mencoba merangkai kata, namun tenggorokannya terasa seperti tercekik pasir.“A-aku... aku baru saja merapikan kamarmu, Uncle. Tadi siang kita sangat terburu-buru ke kantor, jadi aku pikir ini saat yang tepat untuk membereskan tempat tidurmu,” dusta Ivony dengan suara yang bergetar hebat.Damian tidak berhenti melangkah. Ivony terpaksa mundur, selangkah demi selangkah, hingga akhirnya punggungnya menabrak permukaan pintu kayu ek yang dingin di belakangnya. Ia terperangkap.Damian mengangkat kedua tangannya, menumpukannya pada pintu di kiri dan kanan kepala Ivony, menciptakan penjara tak kasat mata yang pengap oleh aroma maskulinnya yang kuat.“Angkat kepalamu, Ivony,” perintah Damian, suaranya rendah dan sarat akan otoritas yang tak terbantahkan.Ivony menggeleng kuat-kuat, tetap menunduk dalam hingga dagunya hampir menyentuh dada. “Tidak
Terakhir Diperbarui : 2026-05-14 Baca selengkapnya