Sejak fajar menyingsing, ponsel Amanda tak berhenti bergetar. Rentetan pesan dari Alex masuk seperti teror yang dibungkus kata-kata rindu. Amanda hanya menatap layar itu dengan jantung berdegup kencang, lalu membaliknya ke atas meja seolah benda itu adalah bara api yang bisa membakar jemarinya. Ia tak membalas satu pun. Alex, yang mulai kehilangan kesabaran di toko bunganya, mencoba cara lain. Ia meraih telepon kabel toko, berharap nomor kantor yang terlihat formal akan membuat Amanda lengah. Namun, Amanda sudah hafal di luar kepala nomor itu—nomor yang dulu selalu ia tunggu-tunggu panggilannya, kini justru menjadi sinyal bahaya. Ponselnya berdering panjang, melolong di keheningan kamar, tapi Amanda hanya mematung, membiarkan dering itu mati dengan sendirinya. Tidak kehabisan akal, Alex meraih ponsel salah satu pegawainya yang sedang merangkai mawar. "Pinjam sebentar, urusan darurat," ucapnya singkat. Ia mendial nomor Amanda. Kali ini, sebuah nomor asing muncul di layar Amanda. Ber
Last Updated : 2026-01-10 Read more