Elvaro menghela napas panjang. Tangannya mengepal di atas meja, urat-urat di punggung tangannya terlihat jelas. Rahangnya mengeras, matanya menajam—bukan amarah yang meledak, melainkan kemarahan yang ditahan dengan paksa.“Nathalie…,” gumamnya pelan, lebih seperti menelan nama itu daripada menyebutnya.Ia berdiri dari kursinya. Langkahnya mondar-mandir di ruang makan, satu tangan mengusap wajah, tangan lain menyisir rambutnya ke belakang. Kekecewaan itu nyata. Selama ini ia berusaha menjaga jarak, bersikap profesional, bahkan memberi batas yang jelas. Namun nyatanya, semua itu tak cukup.“Dia sudah keterlaluan,” ucap Elvaro akhirnya, suaranya rendah tapi tegas. “Ini sudah masuk ranah kriminal.”Ia berhenti melangkah, meraih ponselnya dari saku jas. Jarinya sudah bersiap membuka kontak yang ia tuju, polisi.“Pa,” Arunika cepat berdiri, mendekat. “Tunggu.”Elvaro menoleh. Alisnya berkerut. “Runi, ini gak bisa dibiarkan.”“Aku tahu,” sahut Arunika tenang, meski dadanya ikut berdebar. “Ta
Last Updated : 2025-12-29 Read more