Suasana sejenak hening.Yara menunduk, tangannya refleks mengusap perutnya, jantungnya berdegup tak karuan. Ada takut, ada gugup, tapi juga ada harapan yang selama ini ia simpan rapat-rapat.Langkah kaki terdengar mendekat.Arunika dan Kaivan baru saja tiba. Arunika sempat berhenti ketika mendengar pembicaraan terakhir itu. Matanya langsung membesar, lalu beralih menatap Yara lama, dalam, seolah memastikan sesuatu.“Jadi…,” Arunika mendekat, suaranya bergetar halus, bukan karena marah, tapi karena emosi yang menyesak. “Papa mau nikahin kamu?”Yara mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca. “Kalau kamu setuju, soalnya Papa aku setuju.”Tanpa diduga, Arunika justru tersenyum. Senyum yang selama ini tertahan oleh amarah, kecewa, dan rasa takut.Ia menghampiri Yara, lalu memeluknya erat.“Bodoh,” ucapnya lirih sambil tertawa kecil di antara air mata. “Aku kira kamu bakal terus lari.”Yara terisak. “Aku mau tanggung jawab, Run. Aku mau jadi ibu yang baik.”Kalimat itu membuat dada Arunika m
Last Updated : 2025-12-24 Read more