Yara baru saja selesai meracik salad di atas meja dapur. Potongan selada hijau, tomat ceri, alpukat, dan irisan ayam rebus tersusun rapi, diberi saus ringan yang aromanya segar. Ia tersenyum kecil saat mendengar langkah kaki mendekat.“Mau salad juga?” tawarnya lembut, tanpa menoleh.“Mau,” jawab Arunika singkat.Yara mengambil mangkuk lain, lalu menyendokkan salad dengan porsi yang cukup. Ia sengaja tidak terlalu banyak, khawatir Arunika malah enggan menghabiskannya. Saat menyodorkan mangkuk itu, Yara akhirnya menatap wajah putri sambungnya. Dadanya menghangat sekaligus nyeri.Arunika terlihat rapi seperti biasa, blus polos, rambut terikat sederhana. Namun ada sesuatu yang berbeda. Matanya tampak redup, senyumnya lebih sering tertahan, dan tubuhnya terasa makin kurus dari hari ke hari. Yara teringat Arunika yang dulu, cerewet, tertawa lepas, dan penuh energi. Jujur saja, ia merindukan versi itu.“Kamu kelihatan capek,” ucap Yara hati-hati, sambil duduk di kursi seberang.Arunika hany
Terakhir Diperbarui : 2026-01-10 Baca selengkapnya