“Tentu saja sudah dimulai dari tadi. Kamu menundanya cukup lama,” jawab Revano sedikit mengernyit. Masih tidak mengerti dengan tingkah laku Sira yang malah menunda hari bahagianya sendiri. Sira hanya menunduk, tapi itu hanya untuk menutupi senyum keji yang terbit di bibirnya tanpa bisa dia tahan. Saat kepalanya terangkat, wajahnya justru menampilkan raut sedih dengan mata berkaca-kaca, seolah dia bisa menangis kapan saja. “Sayang … apa yang terjadi?” tanya Tiara mendadak khawatir saat melihat Sira seperti hendak menangis. Sambil mengusap air mata yang nyaris jatuh dengan tisu, Tiara mengomel dengan lembut, “Ini adalah hari bahagiamu. Bagaimana mungkin kamu bisa bersedih begini? Acara sudah dimulai, jangan membuat ibu khawatir.” “Pertahankan saja riasanmu, oke?” bujuk Tiara dengan lembut. Wajahnya yang masih cantik dengan polesan sesuai usianya itu justru menambahkan kesan bijaksana saat berbicara dengan Sira. “Apa yang dikatakan oleh ibu benar, Sira,” sahut Revano ikut menimpali.
Read more