LOGINRevano menghentikan langkahnya sesuai keinginan Sira. Namun, kerutan di kening dan juga tatapan tajam yang tidak ramah membuat Sira menahan napas. “Bukankah ayah sudah mengatakannya barusan? Apa kamu tidak mendengarnya?” Pertanyaan Revano cukup tajam. Sira tahu dia orang yang netral, bahkan ketika dulu dia bertengkar dengan Evelyn. Tidak disangka sikapnya saat ini lebih tajam dan menyakitkan. Mata Sira mulai berkaca-kaca, “Tapi bagaimana aku bisa hidup di bawah tatapan orang-orang dari keluarga Durant? Sudah pasti mereka tidak senang dengan–” “Sira, apakah kamu selalu bertingkah seperti ini bahkan setelah menikah?” potong Revano cepat. Dia mulai sakit kepala karena menghadapi tangisan yang tidak ada habisnya hari ini. “Kamu bukan anak kecil lagi. Setidaknya uruslah dirimu sendiri.” Setelah mengatakan itu, Revano jadi teringat Evelyn. Adiknya yang satu itu kini telah mandiri. Saking mandirinya, dia bahkan baik-baik saja meski tidak menyandang gelar sebagai putri sulung keluarga Ro
Perasaan orang-orang yang ada di ruang keluarga itu campur aduk setelah melihat kedatangan Jason. Terutama Tiara, dia bingung bagaimana berbicara dengan suaminya saat ini.Setelah kebenaran terungkap kemarin, sikap Jason menjadi dingin. Kemarahan dan murka di depan umum adalah emosi terakhir yang ditinggalkan oleh suaminya.Ketika mereka membubarkan pesta lebih awal, suaminya menjauh dan tidak pulang ke rumah sama sekali.Kini, Jason malah datang sambil mengatakan kalimat pertanyaan itu, membuat Tiara ketakutan.“Apa yang kamu maksud?!” balas Tiara defensif. Dia tidak mau mengakui bahwa dia memang sengaja mengusir Evelyn. “Anak itu keluar dari rumah ini karena kesalahannya. Tidak ada hubungannya dengan kami!”Jason tersenyum sinis, “Oh, bukan karena kamu ingin Sira menjadi anak perempuanku satu-satunya, sehingga kamu mengusir Evelyn?”Tiara tergagap tanpa berani menatap mata Jason, “A-aku, mana mungkin aku tega pada anakku sendiri! Kamu tahu berapa banyak masalah yang telah dibuat Eve
Jason tidak terkejut. Setidaknya Evelyn masih mau menerima niat tulusnya meski dia harus menerima syarat yang dia ajukan.“Tentu saja,” balas Jason atas pernyataan Evelyn sebelumnya. “Ayah akan menerimanya asal kamu mau menerima niat baik ayah.”Evelyn tidak lagi terpengaruh oleh sikap Jason yang melunak. Dia masih ingat betul betapa dingin hati ayahnya untuknya.Bahkan meminta maaf ini pun, pasti dia pertimbangkan terlebih dahulu. Penyesalan dan rasa frustasi yang dialami oleh Jason sudah dipastikan hanya sedikit di hatinya.Evelyn tahu sebentar lagi saham yang dia berikan ini pasti akan kembali dipertimbangkan jika dia sudah menyadari bahwa dia benar-benar bukan keluarga Rowan lagi.Evelyn harus bersiap agar Jason tidak menuntut di masa depan baik sebagai ayah maupun sebagai direktur utama perusahaan Wanna Group keluarga Rowan.“Syarat yang saya ajukan tidaklah sulit. Namun, karena ini menyangkut ketulusan Anda, saya berniat menjadikan penyerahan saham ini ditulis di atas kertas put
Evelyn langsung mengerti apa yang dimaksud oleh Jason. Namun, yang tidak dia mengerti adalah kenapa dia melakukan hal itu? “Ayah telah salah sangka dalam waktu lama oleh ulah mereka. Seharusnya apapun yang terjadi, ayah tidak pilih kasih dan mengabaikanmu, Evelyn.”Kalimat itu keluar bersamaan dengan wajah penuh penyesalan. Sayangnya, Evelyn sudah tidak berharap lagi ketika dia diusir dari rumah. Dia telah mati saat nyaris melompat di jembatan waktu itu.Jadi Evelyn hanya menatap dingin dan membalas, “Benar sekali, Anda telah salah sangka dalam waktu lama. Seharusnya Anda juga tahu, bahwa waktu terlalu mahal hanya untuk diulang kembali.”“Anda tidak perlu repot untuk berpikir memperbaiki kesalahan Anda di masa lalu,” lanjut Evelyn tanpa rasa apapun.Jason tahu Evelyn sakit hati atas perlakuannya yang pilih kasih dalam waktu lama itu. Namun, dia benar-benar merasa bersalah dan ingin menebusnya kembali.“Jika kamu mau, ayah bisa mengusir mereka juga. Agar kamu bisa merasa nyaman saat
Napas Jason memburu. Dia tidak menyangka Evelyn tidak memberinya waktu sedikitpun. Seolah dari awal hingga akhir, wanita itu tidak mau bicara dengannya sama sekali. “Aku ke sini sebenarnya tidak ingin mengatakan hal seperti itu,” kata Jason pada akhirnya. Tangannya yang mencekal Evelyn pun ikut dia lepaskan. Takut membuat Evelyn punya alasan untuk kembali menjauh. “Duduklah dulu,” bujuk Jason. “Aku hanya akan membicarakan hal yang penting saja.” Sebagai laki-laki dan orang tua, Jason masih sulit untuk mengatakan maaf atau hal yang membuat dia menurunkan egonya. Padahal dia datang menemui Evelyn justru karena dua hal itu. Kenyataan pahit tentang kebenaran yang membuat luka cukup dalam padanya itu membuat dia merasa sangat bersalah pada Evelyn. Namun, apalagi yang bisa dia lakukan? Semuanya sudah berjalan sesuai takdir. Keluarga kecil bahagia yang dia bangunjustru ilusi yang dia buat sendiri. Evelyn pun demikian. Dua puluh tahun lebih menjadi anak dan dua belas tahun mencari perha
Semua orang menahan napas dengan perseteruan itu. Bahkan orang yang menjadi sumber perseteruan itu juga mendadak kaku dan bingung.Ernest membeku dan tidak menyangka dia akan mengatakan hal demikian. Apakah karena dia tidak senang dengan Evelyn yang terlalu sopan dan menjaga jarak darinya?Evelyn juga begitu. Dia sampai menatap langsung Ernest tanpa berkedip untuk beberapa saat. Ini adalah pertama kalinya Evelyn mendapat perlakuan seperti ini dari Ernest.Meski begitu, Evelyn tetap menjawab dengan suara yang lebih kecil dari sebelumnya.“Aku hanya menjelaskan kondisiku saja.”Ernest akhirnya menghela napas dan memijat keningnya dengan pelan. Bukan itu yang ingin dia katakan. Namun, dia tidak bisa menarik kata-kata yang sudah keluar sebelumnya.“Kau bisa pergi tanpa menungguku,” ujar Ernest pada akhirnya. Evelyn awalnya ingin mengatakan tidak masalah jika harus menunggunya di sini. Namun, dia takut reaksi Ernest akan lebih parah dari sebelumnya.Meski Evelyn tidak tahu kenapa Ernest b
"Lebih penting dari itu." Sira tidak menyangka kata-katanya dibalas seperti itu oleh Revano. Dia tahu bahwa Revano sosok yang netral di antara dia dan Evelyn. Namun, dia tidak menyangka Revano tetap membubarkan pesta yang dia impikan ini hanya karena sesuatu yang diberikan oleh Evelyn. "Baiklah
“Apa yang aku lakukan ini?” Pertanyaan lewat bisikan Evelyn yang sangat samar itu tidak ada yang membalas. Kesadaran menguasainya dalam waktu singkat ketika dia dengan ganas menyiram wajahnya sendiri dengan air. Sekarang, Evelyn merasa bahwa tindakannya amat sangat bodoh. Kata-kata yang menyuru
“Ayah, ibu … aku pulang.”Suara ceria menggema di seluruh ruangan. Ketegangan yang Evelyn rasakan sebelumnya mencair saat sosok perempuan datang menghampiri.Evelyn masih tidak bergerak. Dia terlalu kalut hanya untuk menyambut adik angkatnya yang selalu mendapat senyum hangat orang tuanya. Seperti
“Sudah kubilang jangan memanjakannya. Lihat apa yang terjadi!”Evelyn tertunduk mendengar suara ibunya yang menghina. Hatinya terlalu kalut hanya untuk membalas perkataan ibunya.“Apa lagi yang bisa aku lakukan,” kata Jason seraya mengerutkan kening. “Karakternya terlihat ketika dia memegang kekuas







