Ryan menahan tengkuk Hanna dan menekan bibirnya lagi, lebih dalam, seolah ia ingin memaksa sesuatu darinya. Hanna mendorong dada Ryan sekuat mungkin sampai ciuman itu terputus.Dengan kasar, ia mengusap bibirnya—sekali, dua kali—seakan ingin menghapus jejak Ryan dari kulitnya.“Jijik,” tanya Ryan.“Iya, jijik!” gumam Hanna lirih namun jelas.Ryan menyeringai miring, bukan marah—lebih seperti seseorang yang menemukan celah baru untuk menusuk balik.“Lucu,” ucap Ryan pelan. “Padahal yang seharusnya merasa jijik itu aku… setelah tahu tubuhmu sudah dinikmati pria lain.”Hanna menatapnya tanpa gentar, meski jantungnya berdebar keras menahan marah dan ngeri.“Oh?” Hanna memasang senyum yang sangat tipis. “Kalau begitu, lepaskan aku, Pak Ryan. Kamu berhak dapat perempuan yang jauh lebih baik dari aku.”Ryan mendekat selangkah, membiarkan kata-kata itu menggantung di udara sebelum ia menekannya dengan tawa pelan.“Sayangnya,” suara Ryan berubah hangat dan dingin dalam satu garis tipis, “aku i
Baca selengkapnya