Dengan senyum penuh kemenangan, Hanna mendekat lagi. Kali ini, bibirnya tak hanya menyentuh bibir Liam, tapi menjelajah dengan ringan ke sudut matanya yang tajam, turun ke pelipis, lalu berbisik di telinganya, "Kalau tidak yakin, berarti Professor harus lebih peka."Tangannya yang hangat merayap dari dada Liam, perlahan-lahan menyusuri bahunya yang tegang, lalu turun ke lengan yang berotot. Setiap sentuhan itu seperti sengatan listrik kecil, membuat napas Liam semakin berat. Ketika jari Hanna menyentuh perutnya yang kencang, Liam mendesah pelan."Kamu yang memulai, Hanna," gumam Liam, suaranya serak, penuh peringatan dan hasrat yang sudah di ujung tanduk.Dengan gerakan cepat dan kuat, Liam mengangkat tubuh Hanna dengan mudah dan mendudukkannya di atas meja kerjanya yang berantakan. Kertas-kertas dan perangkat elektronik tersingkir, tapi tak ada yang peduli. Liam berdiri di antara kaki Hanna yang terbuka, tangannya menahan pinggangnya, menariknya lebih dekat."Aroma tubuhmu... selalu
آخر تحديث : 2025-11-27 اقرأ المزيد