Amira tetap diam, mulutnya seakan terkunci. “Mama, katakan! Kenapa diam aja?!” Teriakan Kayra membuat Amira terkejut. Napasnya semakin tidak teratur. Matanya bergerak cepat, mencari celah, mencari jalan keluar. Dan seperti biasa, ia memilih untuk bermain. “Kay…” suaranya melemah, rapuh. “Mama nggak nyangka, gara-gara Celine Papa kamu bisa berubah sejauh ini…” Air matanya mulai menetes, tubuhnya sedikit membungkuk di kursi roda. “Sampai-sampai dia tega menuduh Mama seperti ini. Padahal Mama korban. Mama yang disakiti, tapi…” Amira tak melanjutkan kalimatnya. Isak tangisnya pecah, pundaknya bergetar naik turun. Kayra segera mendekat. “Ma… tenang, aku di sini.” Ia menoleh tajam ke arah Aldean. “Pa! Cuma demi Celine Papa tega memperlakukan Mama kayak gini?! Papa keterlaluan!” Aldean tidak bereaksi. Tatapannya tetap dingin, seolah semua itu tak lagi berarti. Beberapa detik berlalu, ia memandang Amira dalam diam. Namun kali ini, diamnya berbeda—diam yang penuh rasa muak, benar-bena
Read more