Celine terdiam sejenak. Alisnya sedikit berkerut, bukan karena ragu, tapi karena ada satu hal kecil yang sejak tadi terus mengusik pikirannya.“Eh… Om,” panggilnya akhirnya. “Tapi sebelum itu, aku mau nanya dulu sama Om.”Aldean mengangkat alis. “Nanya apa?”Celine menatap Aldean, sorot matanya penuh selidik.“Dari tadi Om manggil aku Sayang,” katanya pelan. “Padahal biasanya… Bebi.”Sesaat Aldean terdiam, lalu terkekeh pelan. Getarannya terasa jelas di dada Celine.Ia menunduk, mendekatkan wajahnya hingga ujung hidung mereka nyaris bersentuhan. Napas mereka berbaur, hangat dan pelan.“Soalnya,” ucapnya lirih, “mulai sekarang… panggilan itu aku khususin.”“Khusus?” dahi Celine berkerut, penuh tanda tanya.Aldean mengangguk tipis.“Iya, khusus kalau kita lagi…” Ia berhenti sejenak, bibirnya melengkung samar. “…lagi itu.”Mata Celine membulat. “Heh—lagi itu maksudnya apa?”Aldean menatap Celine, jelas menikmati ekspresi polos di wajah kekasihnya.“Lagi itu, Sayang... masa nggak ngerti,”
Last Updated : 2026-01-18 Read more