Aku tidak tahu dari mana keberanian itu datang, tapi ketika lengannya masih mengurung pinggangku dan suaranya terus menekan pikiranku, sesuatu di dalam diriku seperti meledak. Aku kembali meronta sekuat tenaga, bahuku menghantam dadanya, kakiku menendang-nendang sia-sia, tapi ia tetap menahan tubuhku. Panik membuat pikiranku gelap. Tanpa berpikir lagi, aku menoleh dan menggigit tangannya sekuat yang aku bisa.“Ah!” Adrian tersentak kaget. Pegangannya mengendur, cukup bagiku untuk mendorong tubuhnya dan berdiri dengan napas terengah. Aku tidak menoleh lagi. Kakiku gemetar, tapi aku memaksanya berlari menuju pintu, lantai kayu di bawah telapak kakiku terasa licin oleh keringat dan ketakutanku sendiri. Gagang pintu sudah di depan mata, tinggal sejengkal lagi.Namun sebelum tanganku sempat menyentuhnya, tubuhku ditarik keras dari belakang. Aku menjerit tertahan saat kakiku terangkat dari lantai. Adrian mengangkatku begitu saja, satu lengannya mengait pinggangku, yang lain menopang pahaku,
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-01-27 อ่านเพิ่มเติม