Aku terpaku.Kata-kata Dharma menggantung di udara, terasa lebih dingin dari angin taman yang menyapu wajahku. Otakku butuh beberapa detik untuk mencerna kalimat barusan, seolah maknanya terlalu besar untuk langsung kuterima.“Rumah sakit… jiwa?” ulangku lirih, hampir berbisik. Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri.Dharma mengangguk pelan. Senyumnya masih ada, tapi itu bukan senyum lega. Itu senyum seseorang yang sudah terlalu lelah untuk menangis.“Aku tidak punya banyak pilihan, Selena,” katanya. “Kalau ibuku dilaporkan, semuanya akan terbuka. Media, polisi, pengadilan. Nama keluargaku, keluargamu… semua akan hancur.”Dadaku terasa sesak. “Kau pikir… dengan cara ini semua bisa tertutupi?”“Aku tidak bilang ini benar,” jawabnya cepat, seolah membaca pikiranku. “Tapi ini jalan tengah yang bisa kupilih.”Ia menatapku dalam, matanya merah, basah, tapi tidak ada air mata yang jatuh.“Kalau ibuku dinyatakan tidak stabil secara mental, kasus ini akan berubah. Dari niat jahat jadi t
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-01-19 อ่านเพิ่มเติม