Darlo tersenyum, sebuah senyum yang lahir dari pusat rasa pahit. Ia berdiri perlahan dari kursinya, telapak tangannya menekan permukaan meja, membuat peralatan makan bergetar pelan.“Ya,” katanya akhirnya, suaranya rendah namun jelas, memecah keheningan seperti pisau. “Aku dan Anggun tidak pernah benar-benar bersih. Dan ayahmu,” tatapannya beralih padaku, tajam dan tanpa ampun, “adalah bagian dari itu.”Dadaku seakan dihantam sesuatu yang keras. Dunia di sekelilingku meredup, seolah suara jam dinding berhenti berdetak. Aku menatapnya, mencoba mencerna kata-kata itu, tapi otakku menolak bekerja sama.“Apa… apa maksud ucapan ayah?” suaraku keluar parau, nyaris tak terdengar.Anggun berdiri tiba-tiba. Kursinya terjungkal ke belakang, menimbulkan suara keras yang membuatku tersentak. Wajahnya pucat, bibirnya bergetar. “Darlo, hentikan. Ini bukan caranya.”“Bukan caranya?” Darlo tertawa singkat. “Kau ingin kejujuran, bukan? Ini kejujuran.”Ia menatapku lagi. “Ayahmu dan istriku menjalin hu
Terakhir Diperbarui : 2026-01-02 Baca selengkapnya