Share

Bab 61 Rasa Bersalah

Author: Tri Afifah
last update Petsa ng paglalathala: 2025-12-21 18:16:41
Mobil Adrian berhenti tepat di depan gerbang rumah Dharma yang menjulang tinggi, besi hitamnya kokoh dengan ornamen sederhana. Mesin masih menyala, lampu depan menyorot jalan masuk yang lenggang, membuat bayangan pepohonan di halaman bergeser pelan.

Dua penjaga mendekat,salah satunya menunduk sopan ke arah kaca jendela yang sedikit terbuka.

“Maaf, Pak,” ucapnya hati-hati. “Kami belum menerima izin untuk membuka gerbang.”

Adrian mengangguk singkat, ekspresinya datar. “Kami tunggu.” Sahut Ad
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 117 Pergilah Sayang

    Pintu ICU terbuka dengan bunyi lirih yang terasa seperti memecah sesuatu di dalam dada.Seorang dokter keluar, masker masih menutupi sebagian wajahnya. Namun sorot matanya sudah cukup untuk memberi jawaban bahkan sebelum ia bicara.Dharma yang sejak tadi berdiri kaku langsung melangkah mendekat.“Dok… bagaimana keadaannya?”Dokter itu menarik napas pendek.Ada jeda, Jeda yang terlalu lama untuk sebuah harapan.“Kami sudah melakukan yang terbaik,” ucapnya pelan. “Tapi… kondisi beliau terlalu berat.”Dunia seakan berhenti sejenak.“Pasien… tidak tertolong.”Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa belas kasihan.Aku refleks menutup mulut. Napasku tercekat.Dharma tidak bergerak, wajah dan tubuhnya tidak langsung bereaksi.Ia hanya berdiri di sana, menatap dokter itu seolah belum benar-benar memahami apa yang baru saja ia dengar.“Tidak…” gumamnya pelan.Sangat pelan.Seperti suara yang tidak sengaja keluar.“Dokter, coba lagi.”Dokter menggeleng perlahan. “Kami sudah melakukan resusitasi. L

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 116 Frustasi

    Lorong ICU kembali sunyi setelah pintu otomatis menutup rapat di depan kami. Lampu putih terasa lebih dingin dari sebelumnya. Bau antiseptik menusuk hidung, membuat kepalaku semakin pening.Dharma berdiri beberapa langkah di depanku, punggungnya tegang. Ponsel sudah di tangannya sejak ranjang ibunya menghilang di balik pintu.Ia menekan layar, hendak menghubungi seseorang.Nada sambung berdering.Sekali, dua kali bahkan sampai ketiga kalinya namun tidak ada jawaban.Rahangnya mengeras. Ia menutup sambungan, lalu langsung menelepon lagi. Kali ini lebih cepat, seolah takut jarak satu detik bisa mengubah segalanya.“Angkat, Pa…” gumamnya lirih, tapi terdengar jelas di lorong yang kosong.Nada sambung itu berakhir dengan suara panggilan tidak dijawab.Dharma menurunkan ponsel perlahan. Tangannya gemetar, bukan karena lelah, tapi karena marah yang ditahan paksa.“Tidak mungkin dia tidak pegang ponsel,” katanya, lebih pada dirinya sendiri. Ia menggeser layar, mencoba lagi. Sudah kelima kalinya

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 115 Sadar, Ma!

    Kami akhirnya keluar dari kamar rawat inap dengan langkah pelan, seolah takut suara sepatu kami bisa membangunkan Mama Anggun. Pintu tertutup di belakang kami, meninggalkan bau obat-obatan dan bunyi monitor yang masih terngiang di kepalaku.“Minum dulu,” kata Dharma pendek. “Kau gemetar.”Aku baru sadar tanganku dingin. Leherku masih nyeri setiap kali menelan ludah. Aku mengangguk, menuruti ketika ia menuntunku menyusuri lorong menuju kantin rumah sakit.Jam sudah larut. Lampu-lampu di kantin menyala redup. Hampir semua kios tertutup dengan rolling door setengah berdebu. Kursi-kursi kosong berjajar, sunyi, hanya suara kipas angin tua yang berdecit pelan.“Seperti kota mati,” gumamku lirih.Dharma menghela napas. “Biasanya cuma satu atau dua yang masih buka malam-malam begini.”Dan benar saja. Di ujung kantin, satu kios kecil masih menyala. Lampu bohlamnya kekuningan. Di etalase kaca, hanya ada beberapa bungkus mie instan dan teko besar berisi air panas.“Maaf, Nak… cuma ada mie sama t

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 114 Kita Belum Tahu, Masalahnya

    Dharma tidak menjawab ucapanku dengan kata-kata. Wajahnya menegang, rahangnya mengeras. Ia meraih tombol panggil perawat di dinding dan menekannya berkali-kali, lebih keras dari yang seharusnya, seolah takut satu detik pun terlewat.“Perawat! Tolong ke kamar ini, sekarang!” suaranya rendah, tapi penuh tekanan.Ia tidak melepaskanku. Satu tangannya menopang bahuku, menarikku berdiri sepenuhnya, lalu memposisikan tubuhnya sedikit di depanku seperti sebuah perisai. Aku bisa merasakan punggungnya yang tegang, napasnya yang berat. Ia melakukan hal ini sengaja agar pandangan Mama Anggun tidak langsung menembus ke arahku.Namun tetap saja dari celah bahunya, aku bisa melihatnya.Mama Anggun menatapku.Matanya terbuka lebar, fokus, terlalu sadar untuk seseorang yang seharusnya lemah. Tatapan itu tajam, dingin dan begitu menusuk. Tidak ada kepanikan dalam wajahnya. Yang ada hanya amarah yang tenang dan sesuatu yang lebih mengerikan yaitu sebuah kesengajaan.Aku menggenggam baju Dharma, jari-jar

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 113 Aku Takut Dharma

    Aku menarik napas panjang, lalu melepaskan genggaman tangan Dharma perlahan.“Aku keluar sebentar ya, Mas,” bisikku. “aku tadi belum sempat ngabarin Ibu.”Dharma mengangguk tanpa menoleh. Pandangannya masih terpaku pada wajah Anggun yang pucat. Aku melangkah keluar kamar, menutup pintu pelan agar tidak menimbulkan suara.Lorong rumah sakit terasa dingin dan terlalu terang. Bau antiseptik kembali menusuk hidungku. Aku berjalan menjauh beberapa langkah, lalu berhenti di dekat bangku kosong di sisi dinding. Tanganku merogoh ponsel, jariku mulai mengetikkan kata.‘Ibu,maaf, aku belum bisa pulang sekarang.Mama Anggun masuk rumah sakit.Keadaannya belum stabil, aku harus temani Mas Dharma di sini. setelah keadaan mama Anggun stabil, aku akan pulang menjenguk ayah.’Aku menatap layar beberapa detik sebelum akhirnya menekan kirim. Dadaku terasa sesak. Entah kenapa, menulis pesan itu membuat semuanya terasa lebih nyata.bahwa malam ini aku benar-benar terjebak di antara keluarga yang retak dan

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 112 n Kasihan Sekali

    Pintu kamar tempat Anggun dirawat kembali terbuka pelan.Aku refleks menoleh, dan jantungku seperti tersentak ketika melihat sosok tinggi dengan jas gelap itu berdiri di ambang pintu.Darlo Castellanos.Langkahnya cepat, seolah benar-benar diliputi kepanikan. Wajahnya tampak kusut, dasinya sedikit longgar, rambutnya tidak serapi biasanya. Begitu matanya menangkap tubuh Anggun yang terbaring lemah di ranjang, ekspresinya langsung runtuh.“Anggun…” suaranya parau.Ia melangkah mendekat, hampir tersandung karena terlalu tergesa. Tangannya gemetar saat memegang sisi ranjang.“Sayang… ya Tuhan…” Ia mengusap wajahnya sendiri, lalu menunduk. Bahunya naik turun, tangisnya seketika pecah saat itu juga.Dharma berdiri kaku di sisi lain ranjang. Rahangnya mengeras, tapi ia tidak berkata apa-apa.Darlo meraih tangan Anggun yang tidak terinfus. Jemarinya menggenggam pergelangan yang dibalut perban.“Kenapa bisa begini…” katanya lirih, suaranya penuh kepedihan. “Siapa yang tega melakukan ini padamu?”

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 97 Pulang

    Aku merogoh ponsel dari dalam tas begitu taksi melaju meninggalkan rumah Adrian. Jemariku gemetar saat menekan nama Dharma di layar.Tidak diangkat.Aku menunggu beberapa detik, lalu mencoba lagi. Nada sambung terdengar panjang, lalu terputus begitu saja. Tidak ada jawaban.Dadaku semakin sesak. Past

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 96 Apa Rencananya?

    Aku masih berdiri di dekat ranjang, dengan dada yang naik turun tidak teratur.Adrian sudah kembali duduk di bangku kayu yang menempel di dinding. Posisi tubuhnya sama seperti tadi punggung bersandar malas, satu kaki sedikit menjulur ke depan, kedua tangannya terlipat di dada. Ia tidak mengatakan ap

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 94 Aku Ingin Pulang

    Adrian tidak kembali mendekat.Ia justru berbalik dan melangkah ke sudut kamar, lalu duduk di kursi kayu memanjang yang menempel di dinding. Punggungnya bersandar malas, satu tangannya bertumpu di sandaran kursi, seolah semua yang baru saja terjadi tidak lebih dari percakapan biasa yang sudah selesa

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 93 Kau Mencoba Menggantikan Posisi Suamiku

    Aku tidak tahu dari mana keberanian itu datang, tapi ketika lengannya masih mengurung pinggangku dan suaranya terus menekan pikiranku, sesuatu di dalam diriku seperti meledak. Aku kembali meronta sekuat tenaga, bahuku menghantam dadanya, kakiku menendang-nendang sia-sia, tapi ia tetap menahan tubuh

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status