Home / Rumah Tangga / Saat Hasrat Menjadi Dosa / Bab 69 Ayahmu dan Istriku

Share

Bab 69 Ayahmu dan Istriku

Author: Tri Afifah
last update Last Updated: 2025-12-31 10:13:28

Meja makan itu tampak tenang untuk pagi yang baru saja diwarnai kekerasan. Sarapan tersaji rapi di atas meja panjang, roti panggang yang masih hangat, telur setengah matang, irisan buah segar, semangkuk sup ringan, dan kopi hitam yang uapnya naik perlahan. Semuanya terlihat menggugah selera pemandangan pagi yang seharusnya menenangkan. Tapi tidak satu pun dari kami benar-benar mempedulikannya.

Kami duduk berhadap-hadapan.

Darlo menempati ujung meja, punggungnya tegak, wajahnya terlihat biasa saja, seolah tidak terjadi apa-apa. Luka di sudut bibirnya sudah dibersihkan, namun aku dapat melihat bagaimana sorot matanya masih memendam sesuatu.

Anggun duduk di sisi meja, tepat di samping Dharma. Tangannya sempat meraih cangkir kopi, lalu berhenti di tengah jalan, seolah ia sendiri sadar bahwa pagi ini tidak ada yang bisa dinikmati. Wajahnya tampak tenang, tapi rahangnya mengeras tanda bahwa emosinya sedang ia tekan sekuat tenaga.

Aku duduk di sebelah Dharma,Bekas darah di sudut bibirnya ma
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 79 Aku adalah Karakter yang dibenci

    Aku dan Dharma akhirnya memilih untuk duduk di sofa kecil di sudut kamar. Entah siapa yang lebih dulu mengalah, yang jelas, kami kelelahan. Kepalaku bersandar di pundaknya, penuh beban yang tak sepenuhnya hilang. Tubuh kami berdekatan, namun tidak saling menuntut apa pun lagi.Napasnya masih terasa hangat di pelipisku. teratur seolah ia juga sedang belajar menenangkan dirinya sendiri.Aku menatap lurus ke depan. Tidak ada air mata lagi, hanya sisa-sisa perih yang mengendap di dada. Anehnya, diam ini tidak menyakitkan. Untuk pertama kalinya sejak pengakuannya, aku tidak merasa harus lari atau melawan.Di pundaknya, aku membiarkan diriku lelah.Aku sadar, berdamai bukan berarti lupa. Bukan berarti luka itu tak pernah ada. Berdamai adalah keputusan paling sunyi.menerima bahwa masa lalu kami kotor, penuh motif yang salah, penuh ego dan balas dendam.Tangan Dharma bergerak pelan, menyentuh lenganku. seolah ia ingin memastikan aku tidak merasa sendiri lagi.“Aku tidak ingin meminta apa-apa l

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 78 Dilema antara Cinta, Dosa dan Keluarga

    Mobil melambat saat memasuki area rumah. Gerbang terbuka, lalu tertutup kembali dengan bunyi besi yang berat, seolah memutus kami dari dunia luar. Dharma memarkirkan mobil di tempatnya.saat Mesin dimatikan,belum sempat Dharma membuka sabuk pengamannya atau menoleh ke arahku, aku sudah lebih dulu membuka pintu. turun dari mobil tanpa berkata apa-apa, tanpa menunggunya.Kakiku melangkah cepat menuju rumah.Di belakangku, aku tahu ia masih duduk di sana. Masih di kursi pengemudi, mungkin menatap setirnya, mungkin menimbang apakah ia harus memanggil namaku. Tapi aku tidak memberi ruang untuk itu. Setiap langkahku adalah penegasan kecil bahwa kali ini, aku memilih jarak.Tanganku meraih gagang pintu rumah. Aku masuk dan menutup pintu di belakangku.Di ruang yang sunyi ini, aku menyandarkan punggung ke pintu sejenak. Aku melangkah masuk ke kamar dan menutup pintu tanpa suara. Ruangan itu masih sama terasa hangat namun berbanding terbalik untuk hatiku yang sedang porak-poranda. Aku meletak

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 77 Orang Baik yang Selalu Tersakiti

    Dharma tidak langsung menjawab pertanyaanku, Tatapannya singgah sesaat di wajahku, rahangnya nampak kembali mengeras.Ia berdiri, Kursinya bergeser pelan, menimbulkan bunyi gesekan kecil yang terasa terlalu nyaring di telingaku.“Selena,” katanya singkat, tanpa diminta aku ikut berdiri tanpa bertanya. Dharma meraih tanganku menggenggamnya cukup erat untuk memastikan aku mengikutinya.Kami berjalan meninggalkan kafe.Aku berjalan di sampingnya, langkahku mengikuti ritme langkah Dharma. Dharma berhenti di depan mobilnya. Lalu membukakan pintu mobil. aku masuk bersamaan dengan dirinya yang juga menempati kursi pengemudi. Mesin mobil menyala. Di kaca jendela, bayanganku memantul samar.Mobil melaju membelah jalanan kota. Dharma fokus mengemudi, kedua tangannya mantap di setir, matanya lurus ke depan. Lampu merah, klakson, dan deru kendaraan lain seolah hanya latar yang jauh. Di dalam kabin ini, keheningan terasa jauh lebih bising.Aku duduk diam, tanganku terlipat di pangkuan, punggungku ber

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 76 Perisai Terakhir

    Aku kembali ke meja itu dengan langkah yang sudah kuatur sedemikian rupa agar terlihat biasa. Kursi di hadapan Dharma kutarik perlahan, lalu aku duduk. Tanganku meraih cangkir teh yang sudah hampir dingin, bukan untuk diminum, tapi sekadar memberi alasan pada jemariku agar tidak gemetar.Belum sempat aku mengangkat wajah, suara Dharma lebih dulu memecah jeda.“Apa kau kemarin menemui Adrian setelah kejadian di rumah?” tanyanya datar. “Karena aku sudah menelpon orang tuamu. Kau tidak ada di rumah.”Aku membeku sesaat.Bukan karena pertanyaannya, tapi karena caranya mengatakan Dharma yang terlihat begitu tenang, tanpa sedikit pun menaruh perhatian pada sembab di mataku. Seolah aku kembali dari toilet dengan wajah yang sama seperti saat aku pergi.Aku mengangkat pandanganku perlahan,Menatapnya. Ada sesuatu yang dingin mengendap di dadaku.“Ya,” jawabku akhirnya. “Aku menemuinya.”Rahang Dharma mengeras tipis. Ia menyandarkan punggung ke kursi, lengannya terlipat di dada. “Untuk apa?”Aku

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 75 Aku Sendiri

    Kami tiba di sebuah kafe kecil tak jauh dari klinik. Tempat itu tidak ramai,hanya beberapa pengunjung yang duduk tersebar, tenggelam dalam urusan masing-masing. Dharma langsung melangkah lebih dulu, matanya menyapu ruangan sebelum memilih meja di sudut paling belakang, setengah tersembunyi oleh tanaman hias tinggi. Jauh dari lalu-lalang dan tentunya akan jauh dari telinga orang lain.Aku mengikutinya tanpa bertanya.Kami duduk berhadapan,Jarak meja terasa seperti garis batas yang tak kasatmata. Pelayan datang, mencatat pesanan dengan cepat. Kopi hitam untuknya. Teh hangat untukku dan beberapa makanan ringan yang Dharma pesan.Setelah itu, keheningan kembali mengambil alih.Aku menatap tanganku sendiri, ada getar halus di ujung jemari yang tak bisa sepenuhnya kusembunyikan.“Aku tidak berniat membawamu ke sana,” ucap Dharma akhirnya. “Tapi aku juga tidak ingin menunda ini lagi.”Aku mengangguk pelan. “Aku mengerti.”Itu jawaban paling jujur yang bisa kuberikan saat ini.Pesanan datang.

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 74 Kenyataan Pahit

    Adrian menatapku tajam setelah kalimat itu meluncur dari bibirnya. Ada luka yang berubah menjadi amarah, dan amarah yang mencari pembenaran.“Kau mencoba kembali menipuku?” katanya, suaranya sedikit naik tidak seperti awal kami bicara. “Kau pintar sekali, Selena. Menarik ulur perasaan seorang pria. Kau tahu kapan harus mendekat, tahu kapan harus menjauh.” Ia tertawa pendek,“Kau benar-benar tahu cara memanipulasi keadaan.”Aku hanya diam, tidak membela diri.“Aku tidak memanipulasi apa pun,” jawabku tenang. “Aku jujur sejak awal.”“Tidak,” potongnya cepat. “Kejujuranmu itu yang paling kejam.”Aku menghela napas pelan. “Kejujuran tidak pernah kejam, Adrian. Yang kejam adalah harapan yang kau bangun sendiri.”Matanya berkilat, rahangnya mengeras. Ia menoleh sejenak ke arah pintu, lalu kembali menatapku, seolah ingin memastikan satu hal terakhir.“Kau akan selalu seperti ini,” ucapnya lirih, tapi penuh penekanan. “Membuat orang percaya mereka berarti lalu pergi tanpa menoleh.”Aku mengge

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status