LOGINSatu Minggu kemudian, di kediaman Darlo Castellanos di ruang makan tersaji rapi deretan makanan yang tertata rapi di atas meja makan. sebenarnya tidak ada yang berbeda, hanya saja makan malam ini ayah mertuaku, Darlo Castellanos mengundang ibuku,Salma Wijaya. Ayahku, Arta Wijaya yang duduk berhadapan denganku. Sejak tadi mereka lebih banyak diam, tatapannya kosong, seperti seseorang yang sudah bersiap menerima vonis.Di ujung meja, Darlo Castellanos duduk tegak. Aura tenangnya membuat ruangan terasa semakin dingin. Di sampingnya, Anggun Castellanos tampak anggun seperti biasa, tapi aku bisa melihat kegelisahan di balik sorot matanya.Dharma duduk tak jauh dariku. Sejak awal, ia tidak banyak bicara. Wajahnya serius, rahangnya mengeras, seolah ia juga sedang menahan sesuatu yang belum sepenuhnya ia pahami.Suara sendok yang beradu dengan piring terdengar terlalu nyaring di tengah keheningan.Lalu Darlo meletakkan sendoknya.“Ada hal yang harus saya sampaikan malam ini,” ucapnya.Dadaku
Tangan Dharma bergerak naik, jemarinya menyusuri rambut panjangku dengan gerakan yang sangat pelan, seolah aku benda rapuh yang bisa retak hanya karena tarikan napas yang salah. Usapannya begitu hangat sangat berbanding terbalik dengan kekacauan yang masih berputar di kepalaku.Aku memejamkan mata saat bibirnya menyentuh keningku, lalu turun ke pelipis. Ciuman itu singkat, tidak menuntut, tapi cukup membuat dadaku mengencang oleh perasaan yang sulit dinamai. Aroma dirinya kembali mengelilingiku.Ia menarik wajahnya sedikit, cukup dekat hingga napas kami bertemu.“Pada terapi selanjutnya,” ucapnya pelan, hampir seperti janji yang ditujukan pada dirinya sendiri, “aku yakin aku sudah bisa menghangatkan ranjang kita.”Aku membuka mata, karena kalimat itu menyentuh sesuatu yang jauh lebih dalam sesuatu yang selama ini tidak pernah benar-benar ia pahami.“Bukan itu masalahnya…” kataku lirih.Dharma terdiam. Tangannya masih di rambutku, namun gerakannya berhenti. Ia menungguku, tanpa bertany
Aku dan Dharma akhirnya memilih untuk duduk di sofa kecil di sudut kamar. Entah siapa yang lebih dulu mengalah, yang jelas, kami kelelahan. Kepalaku bersandar di pundaknya, penuh beban yang tak sepenuhnya hilang. Tubuh kami berdekatan, namun tidak saling menuntut apa pun lagi.Napasnya masih terasa hangat di pelipisku. teratur seolah ia juga sedang belajar menenangkan dirinya sendiri.Aku menatap lurus ke depan. Tidak ada air mata lagi, hanya sisa-sisa perih yang mengendap di dada. Anehnya, diam ini tidak menyakitkan. Untuk pertama kalinya sejak pengakuannya, aku tidak merasa harus lari atau melawan.Di pundaknya, aku membiarkan diriku lelah.Aku sadar, berdamai bukan berarti lupa. Bukan berarti luka itu tak pernah ada. Berdamai adalah keputusan paling sunyi.menerima bahwa masa lalu kami kotor, penuh motif yang salah, penuh ego dan balas dendam.Tangan Dharma bergerak pelan, menyentuh lenganku. seolah ia ingin memastikan aku tidak merasa sendiri lagi.“Aku tidak ingin meminta apa-apa l
Mobil melambat saat memasuki area rumah. Gerbang terbuka, lalu tertutup kembali dengan bunyi besi yang berat, seolah memutus kami dari dunia luar. Dharma memarkirkan mobil di tempatnya.saat Mesin dimatikan,belum sempat Dharma membuka sabuk pengamannya atau menoleh ke arahku, aku sudah lebih dulu membuka pintu. turun dari mobil tanpa berkata apa-apa, tanpa menunggunya.Kakiku melangkah cepat menuju rumah.Di belakangku, aku tahu ia masih duduk di sana. Masih di kursi pengemudi, mungkin menatap setirnya, mungkin menimbang apakah ia harus memanggil namaku. Tapi aku tidak memberi ruang untuk itu. Setiap langkahku adalah penegasan kecil bahwa kali ini, aku memilih jarak.Tanganku meraih gagang pintu rumah. Aku masuk dan menutup pintu di belakangku.Di ruang yang sunyi ini, aku menyandarkan punggung ke pintu sejenak. Aku melangkah masuk ke kamar dan menutup pintu tanpa suara. Ruangan itu masih sama terasa hangat namun berbanding terbalik untuk hatiku yang sedang porak-poranda. Aku meletak
Dharma tidak langsung menjawab pertanyaanku, Tatapannya singgah sesaat di wajahku, rahangnya nampak kembali mengeras.Ia berdiri, Kursinya bergeser pelan, menimbulkan bunyi gesekan kecil yang terasa terlalu nyaring di telingaku.“Selena,” katanya singkat, tanpa diminta aku ikut berdiri tanpa bertanya. Dharma meraih tanganku menggenggamnya cukup erat untuk memastikan aku mengikutinya.Kami berjalan meninggalkan kafe.Aku berjalan di sampingnya, langkahku mengikuti ritme langkah Dharma. Dharma berhenti di depan mobilnya. Lalu membukakan pintu mobil. aku masuk bersamaan dengan dirinya yang juga menempati kursi pengemudi. Mesin mobil menyala. Di kaca jendela, bayanganku memantul samar.Mobil melaju membelah jalanan kota. Dharma fokus mengemudi, kedua tangannya mantap di setir, matanya lurus ke depan. Lampu merah, klakson, dan deru kendaraan lain seolah hanya latar yang jauh. Di dalam kabin ini, keheningan terasa jauh lebih bising.Aku duduk diam, tanganku terlipat di pangkuan, punggungku ber
Aku kembali ke meja itu dengan langkah yang sudah kuatur sedemikian rupa agar terlihat biasa. Kursi di hadapan Dharma kutarik perlahan, lalu aku duduk. Tanganku meraih cangkir teh yang sudah hampir dingin, bukan untuk diminum, tapi sekadar memberi alasan pada jemariku agar tidak gemetar.Belum sempat aku mengangkat wajah, suara Dharma lebih dulu memecah jeda.“Apa kau kemarin menemui Adrian setelah kejadian di rumah?” tanyanya datar. “Karena aku sudah menelpon orang tuamu. Kau tidak ada di rumah.”Aku membeku sesaat.Bukan karena pertanyaannya, tapi karena caranya mengatakan Dharma yang terlihat begitu tenang, tanpa sedikit pun menaruh perhatian pada sembab di mataku. Seolah aku kembali dari toilet dengan wajah yang sama seperti saat aku pergi.Aku mengangkat pandanganku perlahan,Menatapnya. Ada sesuatu yang dingin mengendap di dadaku.“Ya,” jawabku akhirnya. “Aku menemuinya.”Rahang Dharma mengeras tipis. Ia menyandarkan punggung ke kursi, lengannya terlipat di dada. “Untuk apa?”Aku







