Adrian mengerem pelan saat mobil melambat di pinggir trotoar depan halte yang mulai ramai. Olivia buru-buru melepaskan seatbeltnya, tangan sudah meraba tas di pangkuan, bersiap turun. "Mas, aku turun dulu ya. Makasih sudah anter," ucapnya, senyum manis mengembang di bibir. Adrian meraih tangan Olivia, meremasnya pelan, raut wajahnya campur aduk antara enggan dan perhatian. "Hati-hati, Sayang. Jangan sampai kecapekan. Nanti aku jemput pulang kerja, ya," bisiknya lembut. Olivia melepaskan genggaman, tapi Adrian kembali menggenggam tangannya, tak rela melepaskan. "Iya, Mas. Kalau harus lembur, aku kabarin," sahutnya, sedikit tertawa kecil. "Oke, Sayang." "Ya udah, Mas." "Ya udah apa?" "Lepas, Mas." "Maksudnya?" "Mas, aku benar-benar mau turun. Lepasin tangan kamu," Olivia merengek sambil mengangkat alis. "Ah, itu." "Iya, gimana aku bisa turun kalau tangan kamu nangkring terus di situ?" Adrian mendongak, seolah ingat sesuatu. "Sebentar, sebentar. Rasanya ada yang ketinggalan m
Terakhir Diperbarui : 2025-10-20 Baca selengkapnya