Pagi itu, Olivia keluar dari lift dengan dada sedikit berdebar. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Ciuman itu—satu momen yang mestinya tak pernah terjadi—masih berputar di kepalanya sejak tadi pagi. Ada rasa malu, bingung, tapi juga sesuatu yang tak mau ia akui keras-keras. "Bodoh ... harusnya kamu bisa menahan diri, Via," bisiknya pada diri sendiri sebelum akhirnya sampai di depan ruang kerjanya. Gadis cantik itu mendorong pintu. Begitu masuk, aroma kopi dan suara ketikan menyambutnya. Ruangan itu sudah ramai, Rayhan, Ayu, dan Laras sudah duduk di meja masing-masing. Serempak, tiga pasang mata menoleh begitu mendengar langkah Olivia. "Hai ... pagi semua," sapanya, mencoba ramah meski suaranya sedikit serak. "Pagi, Via!" sahut Rayhan duluan, wajahnya sumringah. Lalu dengan nada penuh antusias, ia menepuk meja. "Via, sore ini kamu harus ikut aku sama Mbak Laras, ya." Alis Olivia naik. "Ikut ke mana, Ray?" Rayhan mencondongkan badan, matanya berbinar sepe
Terakhir Diperbarui : 2025-10-11 Baca selengkapnya