Gista menaruh kunci mobil di atas buffet dengan tangan yang masih gemetar, sesaat kemudian ia meremas dadanya pelan, seperti berusaha menenangkan napas yang tercekat. Ucapan Erika terus bergema di kepalanya, kata-kata itu seolah menempel, menggurat sakit."Bodoh kamu, Ta. Harusnya tadi melawan, kenapa malah diam saja..." desis Gista, mengusap sedikit air mata di sudut.Dengan langkah berat, dia melangkah ke dapur, sementara Nevan tertawa riang, sibuk bermain Lego di depan sofa bersama Rika, mulutnya dipenuhi potongan buah mangga yang disuapi oleh sang nenek.Tangannya meraih cangkir favorit, hendak meramu minuman segar dengan gerakan setengah melamun."Nyonya, mau bikin apa? Biar saya buatkan," suara Nur tiba-tiba terdengar dari belakang, membuat Gista tersentak sedikit."Eh? Ada buah apa? Aku mau bikin jus, Mbak. Butuh yang segar-segar soalnya kepalaku mau pecah," ucap Gista, berusaha terdengar lebih ceria daripada yang dia rasakan."Buahnya belum beli lagi, Nyonya. Tadi mangga udah
Terakhir Diperbarui : 2025-11-04 Baca selengkapnya