Adrian menarik kopernya ke tengah kamar, lalu membungkuk membuka resletingnya dengan gerakan terburu. Malam itu, pikirnya, packing harus selesai karena besok pagi dia sudah harus berangkat ke Bandung bersama Renata dan Gandi. Duda tampan itu mengangkat beberapa kemeja dari lemari, mulai dari yang putih favoritnya, biru navy, hingga yang bergaris tipis. Satu per satu dilipat rapi dan disusun dengan teliti dalam koper. Celana panjang, sabun cukur, charger, dan barang lain ikut ditata rapi. Baru saja hendak mengambil sepasang sepatu, ponselnya bergetar di atas nakas. Nama Gandi terpampang di layar. Adrian menghela napas panjang, matanya sedikit melebar saat duduk di tepi kasur sambil menjawab, “Ya, Gandi?” Suara di ujung sana terdengar lelah, serak, dan ada desakan bising samar—entah suara kursi dorong atau panggilan darurat di latar belakang. “Pak Adrian, maaf mengganggu. Istri saya masuk rumah sakit. Diagnosanya demam berdarah.” Adrian langsung tegak, dadanya berdebar. “Ya Tuhan,
Terakhir Diperbarui : 2025-12-08 Baca selengkapnya