Ketika pintu lift terbuka di lantai direktur, Raya melangkah keluar dengan pelan. Tubuhnya terasa berat, dan napasnya masih belum sepenuhnya tenang. Dalam benaknya, ia sudah bersiap menghadapi situasi canggung, seperti pandangan teman-teman Ares, kehadiran Kenzie, dan Prama. Ia menduga ruang kantor masih dipenuhi sisa-sisa ketegangan rapat yang harusnya baru dimulai. Tapi begitu ia memasuki area depan ruangan Ares, pandangannya langsung tertuju pada satu sosok. Ares. Pria itu berdiri bersandar pada meja kerja Raya dengan tangan terlipat di dada, tubuhnya tampak tegang, seolah sedang menunggu vonis. Tatapannya langsung terarah pada Raya begitu pintu lift terbuka, dan seketika itu pula, ekspresi dingin khasnya runtuh. Yang tergambar di sana hanyalah kekhawatiran yang murni dan tulus. Raya berhenti di ambang pintu, bingung. Matanya menyapu ruangan. Sunyi. Tak ada Brandon, Geri, Kevin, atau Fattah. Bahkan Kenzie dan Prama pun tak terlihat. Ruangan itu benar-benar hanya dihuni oleh d
Last Updated : 2025-12-07 Read more