Raya menatap Ares tanpa berkedip. Dadanya naik turun pelan, tapi pertanyaannya keluar dengan jelas dan tenang, meski mengandung badai. "Ares," ucapnya perlahan, membiarkan nama itu menggantung di udara. "Apa kamu pernah merasa, mungkin selama ini Tania memanfaatkan kondisinya sendiri?" Ares terdiam. Ia tidak langsung menjawab, hanya menatap Raya, mencoba menyelami sejauh mana wanita di depannya ini telah memahami labirin gelap masa lalunya. "Apa kamu pernah terpikirkan," lanjut Raya, suaranya tetap datar namun menusuk, "kalau wanita itu sengaja menyakiti dirinya sendiri—bahkan menyakiti Kelana—bukan karena dia kehilangan kendali, tapi karena dia tahu itu adalah satu-satunya 'tombol' yang bisa menekanmu? Dia tahu, selama dia berdarah, kamu akan selalu berlutut di depannya." Ares menarik napas panjang. Bukan napas panik, melainkan napas berat dari seorang pria yang telah memikul beban yang sama selama bertahun-tahun. Anehnya, ada kelegaan yang menyusup di dadanya. Ia merasa akhir
Last Updated : 2025-12-24 Read more