Lulu membeku. Untuk pertama kalinya sejak ia masuk ke ruangan itu, tidak ada teriakan. Tidak ada tudingan. Tidak ada histeria. Hanya napasnya yang terdengar tersengal, seolah paru-parunya lupa cara bekerja. Matanya menyipit, mencoba membaca apakah Ares sedang menggertak atau sungguh-sungguh. "Apa... maksudmu?" suaranya serak, hampir tak terdengar. Ares berdiri tegak di hadapannya, posturnya tenang. Bahunya lurus, wajahnya tanpa emosi berlebihan—bukan marah, bukan puas. Hanya lelah. Sangat lelah. "Aku tidak akan mengulanginya dua kali," ucapnya pelan, tapi setiap kata terdengar seperti pukulan. "Kamu akan pergi dari sini. Berhenti mengusik hidup kami. Jangan lagi menyentuh calon istriku, apalagi menyeret Kenzie lagi ke dalam permainanmu, dan stop memutarbalikkan masa lalu demi kepentinganmu sendiri." Lulu tertawa kecil, terdengar rapuh, retak di ujungnya. "Kalau aku menolak?" Ares menghela napas perlahan. Ada jeda singkat, bukan ragu, menahan sesuatu di dalam dirinya. Ia mel
Terakhir Diperbarui : 2025-12-27 Baca selengkapnya