Sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah-celah jendela kantor penerbitan Gema Pustaka terasa begitu menyengat, kontras dengan suasana hati Ariel yang mendung dan berkabut. Di hadapannya, tumpukan naskah berserakan, namun fokusnya tidak ada di sana. Pikirannya melayang jauh, kembali ke kehangatan selimut di apartemennya beberapa jam yang lalu, pada aroma cendana yang masih samar-samar tertinggal di indra penciumannya, dan pada bisikan parau Nathan yang memintanya untuk tidak pergi."Ariel? Riel? Kamu dengar saya tidak?"Suara berat dan tegas itu memecah lamunan Ariel seperti batu yang dilemparkan ke permukaan danau yang tenang. Ariel tersentak, bahunya sedikit melonjak saat ia mengerjapkan mata berkali-kali. Di depannya, Pak George, editor senior yang dikenal karena ketelitiannya yang nyaris kejam, tengah menatapnya dengan kening berkerut dalam. Kacamata minusnya bertengger di ujung hidung, memberikan kesan intimidasi yang lebih kuat dari biasanya."Ah, iya, Pak? Maaf, ta
Last Updated : 2026-02-13 Read more