Rencana Nathan untuk membawa Ariel pulang sore itu gagal total. Hujan deras mengguyur kota, disertai angin kencang yang membuat jalanan tidak aman untuk dilewati. Ditambah lagi, Ibu Ratih bersikeras menahan mereka—dengan alasan sup buntut jatah makan malam belum tersentuh. Alhasil, Ariel kembali terjebak di rumah besar itu untuk satu malam lagi.Malam telah larut, jarum jam dinding antik di ruang tengah sudah menunjuk angka satu. Namun, mata Ariel terasa berat untuk dipejamkan. Pikiran-pikiran acak membuatnya gelisah. Akhirnya, ia memutuskan untuk mencari udara segar. Dengan langkah pelan agar tidak membangunkan seisi rumah, ia menyelinap ke teras belakang.Ariel mengira ia akan sendirian, menikmati sisa aroma hujan dan tanah basah. Namun, ia salah. Di sudut teras, duduk di kursi rotan dengan satu kaki terangkat santai, ada Matthew.Pria itu sedang menatap langit malam yang mulai bersih dari awan, sebuah cangkir kopi mengepul di meja di sampingnya. Plester di hidungnya masih menempel,
Last Updated : 2026-02-08 Read more