Ketegangan di koridor rumah sakit itu memuncak dalam hitungan detik. Kara, dengan kecepatan yang tidak terduga, menyambar amplop putih dari tangan Ariel yang gemetar. Sentakan itu begitu keras hingga ujung kertasnya sempat menyayat telapak tangan Ariel, namun rasa perih itu kalah oleh rasa takut yang menghantam dadanya."Hai! Apa yang kau lakukan? Kembalikan!" sergah Ariel, suaranya naik satu oktav. Ia berusaha meraih kembali miliknya, namun Kara melangkah mundur, matanya berkilat penuh amarah yang tertahan.Kara tidak memedulikan protes itu. Dengan kasar, ia merobek segel amplop dan mengeluarkan selembar kertas hasil laboratorium di dalamnya. Matanya menyisir baris demi baris kata medis yang tertera di sana. Begitu sampai pada kesimpulan akhir, napas Kara tertahan."Positif hamil?" Suara Kara bergetar, bukan karena sedih, melainkan karena ledakan emosi yang nyaris tak terkendali. Ia menatap Ariel dengan pandangan menghina. "Kamu hamil anak siapa, Ariel? Siapa laki-laki malang yan
Last Updated : 2026-03-23 Read more