Nathan berdiri mematung di ambang pintu apartemennya, tangannya mencengkeram kusen kayu hingga buku-buku jarinya memutih. Di luar, lorong apartemen bermandikan cahaya lampu neon yang berdengung lirih, menciptakan bayangan panjang yang seolah ingin menelan sosok yang berdiri di hadapannya.Ariel ada di sana. Berdiri kikuk, bahunya merosot menahan beban tas kerja yang tampak lebih berat dari biasanya, atau mungkin beban rasa bersalahlah yang menekan pundaknya malam itu. Angin malam yang dingin menyelinap masuk melewati celah pintu yang terbuka lebar, membawa aroma hujan dan knalpot kota yang samar, namun bagi Nathan, udara itu terasa membekukan paru-paru.Ada sorot mata yang tak bisa disembunyikan Nathan—sebuah adonan emosi yang kacau antara kelegaan karena wanita itu akhirnya pulang dengan selamat, kecemasan yang telah menggerogotinya selama tiga jam terakhir, dan sesuatu yang lebih gelap, lebih posesif, yang berdenyut menyakitkan di dasar perutnya.“Nathan… maaf… aku—” Ariel memulai,
Terakhir Diperbarui : 2026-02-06 Baca selengkapnya